Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #17

Bab 15

Sehari sebelum Selasa di minggu kedua bulan September.

“Kiri, Bang.” Angkot yang ditumpangi Hilal segera menepi ketika dia mengatakan sepatah kata tersebut. Sebelum keluar, dia membayarkan uang sejumlah lima ribu dan memberikannya kepada sopir yang wajahnya masam. Kemudian, Hilal bergegas keluar karena kendaraan di belakang mulai tidak sabaran.

Dari tempatnya turun, Hilal berjalan sekitar seperempat kilometer untuk sampai ke rumahnya. Rumahnya bukan berada di gang kecil yang berkelok, tetapi apalah daya rumah-rumah di Jakarta memang sudah terlalu penuh. Banyak sekali tempat, seperti taman atau tanah kosong yang hanya terisi pepohonan, diubah menjadi pemukiman.

Tiba-tiba langkah Hilal terhenti. Wajahnya meringis, menahan napas. Dia melepaskan tas yang berselempang di bahu kanannya. Bagian tas rupanya mengenai luka di punggungnya. Bukan luka lama, tetapi luka yang baru lahir di hari Sabtu, tepatnya ketika masih dini hari. Kemudian, rasa perih itu seketika melempar ingatan Hilal mundur ke belakang. Suara bising jalanan Senin sore mendadak lenyap, digantikan oleh gema suara cambukan di kamarnya.

Pagi buta itu, suara cambukan seakan menggema di rumah itu. Cambukan pertama, yang baru saja mendarat tajam di punggung, diberikan Azhari atas dosa anaknya. Itu hukuman karena anaknya tidak mematuhi perintah seorang kepala keluarga.

Hilal berdiri gemetar di samping tempat tidurnya. Tubuhnya telanjang dada atas perintah tegas abinya setiap kali eksekusi hukuman dilakukan. Celana panjang hitam yang dipakainya ikut bergoyang, seirama dengan getaran lutut pemilik tubuh tersebut yang tidak mampu dikendalikan.

“Kenapa kamu tidur tidak pakai baju?!” hardik Azhari. Suaranya rendah, tetapi menusuk, lebih menakutkan daripada teriakan.

Hilal menunduk dalam, matanya terpejam takut. “P-panas, Bi … kipasnya mati.

Satu cambukan lagi mendarat. Lebih kuat dari sebelumnya, menyilang di atas luka pertama. Hilal tersentak, punggungnya melengkung menahan jeritan yang tertahan di tenggorokan.

“Panas itu di neraka! Ini dunia!” Azhari menggulung kembali sabuk kulitnya dengan tenang, matanya menatap punggung anaknya dengan sorot jijik. “Kalau tidur saja kamu telanjang dada seperti preman pasar yang mengumbar aurat, di mana adabmu? Malaikat tidak sudi masuk ke kamar yang isinya manusia tanpa rasa malu!”

“Sudah, Bi ….” Seseorang memohon dari luar kamar. Orang tersebut terus mengetuk-ngetuk pintu yang dikunci dari dalam.

Azhari menengok ke arah pintu yang tertutup rapat. “Diam, Suhunia! Kamu jangan bela anak yang bersalah! Mau jadi apa dia kalau adab tidur saja tidak punya?!”

Ingatan itu memudar seiring dengan suara klakson motor yang lewat di jalanan kompleks.

Hilal mengerjap, kembali berpijak pada aspal panas hari Senin. Punggungnya masih berdenyut, seolah sabetan sabuk itu baru saja terjadi lima menit yang lalu, bukan dua hari yang lalu. Dia menghela napas panjang, berusaha menata detak jantungnya yang sempat memburu karena trauma. Dengan hati-hati, dia membetulkan posisi tasnya agar tidak menekan luka, lalu kembali menyeret langkah kakinya.

Lihat selengkapnya