Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #18

Bab 16

Suasana makan malam di rumah itu selalu terasa seperti upacara pemakaman: “hening”, kaku, dan penuh tata krama yang melilit tubuh dua penghuninya.

Di bawah sorot lampu ruang makan yang putih terang, Azhari duduk di ujung meja, seperti posisi raja. Dia makan dengan khidmat, menggunakan tangan kanannya untuk menyuap nasi dan lauk dengan rapi, sesuai sunah yang dia pegang teguh selama ini. Tidak ada butir nasi yang jatuh, tidak ada kecap yang menetes, tidak ada yang berantakan.

Di sisi kanannya, Suhunia makan dengan kepala tertunduk. Di sisi kirinya, Hilal melakukan hal yang sama. Bedanya, Hilal makan dengan gerakan lambat, seolah menelan nasi itu adalah pekerjaan paling berat sedunia. Punggungnya tidak berani bersandar ke kursi, takut lukanya tertekan kayu keras di hadapan ayahnya.

Tidak ada obrolan hangat di meja itu. Satu-satunya suara yang mendominasi hanyalah lantunan murottal Alquran yang mengalun konstan dari speaker di ruang tengah. Murottal, sebuah kewajiban yang tidak boleh dimatikan di rumah ini. Suara qari yang melantunkan ayat suci itu bersahutan dengan denting sendok yang sesekali beradu kecil-kecil dengan piring.

Hilal melirik ibunya sekilas lewat ekor mata. Memberi kode. Jantungnya berdegup kencang menanti janji Suhunia tadi sore.

Suhunia menangkap sinyal itu. Dia meletakkan gelas airnya perlahan, lalu berdehem pelan. Sangat pelan, khawatir suaranya kalah oleh lantunan ayat suci atau memecah konsentrasi suaminya.

“Bi …,” panggil Suhunia lembut.

Tangan Azhari berhenti di udara, tepat sebelum suapan berikutnya masuk ke mulut. Dia tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada piring, dan hanya berdehem untuk menjawab panggilan istrinya.

“Itu, Bi ... soal sekolah Hilal.” Suhunia mencoba merangkai kata dengan hati-hati. “Tadi Hilal bilang, dia ada tugas kelompok, wajib. Pelajaran silat.”

Azhari perlahan menaruh suapannya kembali ke piring. Dia menoleh, menatap istrinya, lalu beralih menatap Hilal. Tatapan itu tajam, menusuk, seolah sedang menguliti kebohongan anaknya.

“Tugas?” Suara Azhari terdengar berat, seolah bersaing dengan suara qari dari speaker.

“Iya, Bi. Praktik silat,” sambung Suhunia cepat, berusaha agar suaranya tidak terdengar gemetar. “Harus pakai matras tebal karena ada gerakan bantingan. Di rumah kita kan tidak ada, lantainya ubin keras. Kasihan badan Hilal kalau jatuh-jatuh di sini. Jadi ... harus menumpang di rumah temannya yang punya matras.”

Azhari mendengus kasar. Dia mengambil tisu, mengelap bibirnya dengan gerakan lambat yang mengintimidasi.

“Alasan,” ucap Azhari dingin. “Kerja kelompok itu cuma kedok. Paling sampai sana cuma main game, keluyuran, merokok, kumpul-kumpul sama anak-anak liar yang gak punya masa depan.”

Hilal menunduk semakin dalam, meremas kain celananya di bawah meja. Tuduhan itu perih, tetapi membantah sama saja bunuh diri.

“Tapi ini demi nilai, Bi,” potong Suhunia, memberanikan diri sedikit menekan tombol kelemahan suaminya: Gengsi akademik. “Hilal mau masuk universitas negeri, ‘kan? Nilai praktiknya wajib bagus. Kalau dia tidak ikut dan dapat nilai nol, nanti rapornya merah. Abi mau anak Abi tinggal kelas atau gagal masuk PTN karena nilai silat?”

Kalimat itu mendarat telak.

Lihat selengkapnya