Perjalanan dari sekolah ke rumah Kavian hanya memakan waktu beberapa saat, tetapi bagi Hilal, rasanya seperti melintasi dua dimensi yang berbeda. Sepanjang perjalanan, dia seakan berada di atas awan. Sesaat dia merasa bebas, ibarat burung yang terbang setinggi-tingginya di lautan angkasa.
Motor berwarna hitam itu melambat, menyusuri jalanan bata merah yang hanya cukup dilalui maksimal satu mobil, lalu berhenti di depan sebuah rumah. Rumah itu cat dinding luarnya sudah agak kusam di beberapa bagian, mengelupas dimakan cuaca. Halaman depannya terbuka tanpa pagar pembatas, tidak luas, tetapi penuh sesak oleh pot-pot berisi tanaman yang tumbuh agak liar dan jemuran pakaian yang melambai ditiup angin. Sangat berbeda dengan halaman rumah Hilal yang steril, bahkan terlalu steril.
“Sampai,” ujar Kavian sambil mematikan mesin motor. Dia melepas helmnya dengan gerakan santai, mengibaskan rambutnya yang sedikit lepek karena keringat. “Ini rumah gue. Funfact-nya, lo orang pertama yang gue ajak ke rumah, walaupun memang ada kebutuhannya.”
Hilal turun dari boncengan, melepas helm bogo putih itu dengan hati-hati. Namun, alih-alih mengikuti Kavian yang sudah melangkah naik ke teras, Hilal justru terpaku di tempatnya berdiri, tepat di tepi jalan bata merah. Tangannya merogoh saku celana dengan panik.
Kavian yang sudah berjalan menuju pintu utama dan hendak mengetuknya, seketika terdiam. Alisnya bertaut heran. “Ngapain, Lal?”
Hilal bergeming. Dia masih fokus memotret rumah temannya dan mengirimkan live location.
Kavian akhirnya mendekati Hilal yang kini fokus menatap ponselnya. Dia memegang punggung temannya tanpa sadar. “Lal, ngap—”
Hilal menghindar cepat, sementara Kavian segera menyadari apa yang dilakukannya tadi.
“Maaf-maaf, gue lupa, maaf banget, Lal,” mohon Kavian. Kedua telapak tangannya sampai bertemu sebagai isyarat tambahan permintaan maafnya.
Hilal menarik napas panjang, berusaha menahan denyutan ngilu yang menjalar di punggungnya akibat gerakan refleks tadi. Dia melihat wajah Kavian yang pias karena merasa bersalah.
“Gak apa-apa,” jawab Hilal cepat, berusaha terdengar santai meski suaranya masih sedikit gemetar. “Aku ... aku cuma kaget aja.”
Hilal memaksakan seulas senyum tipis untuk menenangkan temannya. Dia tidak ingin Kavian tahu seberapa parah lukanya atau seberapa takut dia sebenarnya.
“Oke, tapi lo tadi ngapain foto-foto?” tagih Kavian, masih belum lupa dengan pertanyaan awalnya. Tatapannya kini beralih ke ponsel yang digenggam erat oleh Hilal.
Hilal menghela napas. Dia menunjukkan layar ponselnya sekilas, memperlihatkan dua centang biru di ruang obrolan dengan kontak bernama Abi.
“Laporan,” jawab Hilal singkat. “Syarat izin keluar. Aku harus share loc dan kirim foto tiap setengah jam. Kalau telat sedikit aja ... izinnya dicabut.”
Hilal tidak meneruskan kalimatnya, tetapi Kavian melihat kilatan takut di mata temannya itu. Kavian terdiam. Matanya bergulir dari ponsel Hilal, lalu ke punggung manusia muda yang tadi dia sentuh.
Syarat ketat. Ketakutan berlebihan. Punggung yang sakit.