“Di depan belok ke kiri,” ujar Hilal pelan. Tubuhnya condong ke depan, ke telinga temannya yang tengah mengendarai motor.
Kavian mengangguk, kemudian melirik ke spion motor yang menampilkan wajah Hilal. Wajah itu sebelumnya agak pucat, tetapi saat ini, seakan lebih hidup. Tatapannya lebih menyala, bicaranya tidak banyak ragu, seperti kembang api yang meluncur dan meledak setelah sumbunya disundut dengan api.
Ada banyak sekali hal yang terjadi selama beberapa jam terakhir di rumah Kavian. Banyak sekali tawa yang muncul tiba-tiba dari sudut bibir Hilal, keraguan yang lenyap, dan berakhir pada pertemanan mereka yang mulai dekat. Setidaknya itu yang dirasakan Hilal, dan Faktanya, ini pertama kali Hilal merasakan hal tersebut.
Sebenarnya, diantar pulang seperti ini bukanlah kemauan Hilal. Namun, penolakannya mental begitu saja di hadapan logika Kavian yang sederhana, tetapi telak. Saat Hilal hendak memesan ojek online di teras, Kavian buru-buru menahannya dengan dalih "sayang ongkos" dan argumen bercanda bahwa membiarkan tamu pulang sendiri adalah aib besar bagi tuan rumah.
"Mending uangnya lo simpan," ujar Kavian tadi sambil memutar kunci motor. “Lumayan 'kan, bisa buat jajan bakso tusuk di kantin, atau ditabung buat beli barang yang lo suka."
Kalimat terakhir itulah yang akhirnya membuat Hilal menurut. Bukan karena bakso tusuk, melainkan karena satu keinginan gila yang mendadak terlintas di kepalanya: dia butuh uang itu untuk membeli ulang novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur sebagai pengganti bukunya yang “hilang”.
“Di depan berhenti. Rumah aku yang itu.” Hilal menunjuk rumah berpagar hitam yang terasa terlalu tertutup.
Kavian menarik rem, membiarkan motornya diam tepat di depan gerbang yang ditunjuk. Matanya menyusuri bangunan itu dengan perasaan asing yang merambat. Pagar besi hitam di hadapannya menjulang terlalu tinggi, rapat tanpa celah, seolah sengaja dirancang untuk menolak siapa pun yang ingin mendekat atau mencegah siapa pun di dalam untuk keluar. Tidak ada pot tanaman yang berantakan, tidak ada sandal yang berserakan, apalagi suara televisi atau tawa manusia, hanya tembok kokoh yang membisu dalam keangkuhan. Bagi Kavian yang terbiasa dengan kebisingan hangat di rumahnya, bangunan di depannya ini tidak terlihat seperti tempat keluarga bernaung, melainkan lebih mirip benteng pertahanan yang dingin dan steril.
“Makasih banyak, Kav.” Hilal telah turun dari motor. Dia menatap Kavian yang matanya masih mengelilingi tampak luar rumahnya.
Kavian kini menengok, menatap Hilal. “Sama-sama. Sana masuk.”
Hilal tidak langsung beranjak. Dia malah meremas tali tas ranselnya erat-erat, kakinya mengetuk pelan aspal dengan gelisah. Matanya bergerak liar, mencuri pandang ke arah pagar rumahnya sendiri seolah benda mati itu bisa mendadak menerkam mereka. Ada rasa sungkan yang pekat, bercampur dengan ketakutan irasional kalau-kalau pintu pagar itu dia buka selagi Kavian masih di sana.
“Kamu ... kamu jalan duluan aja,” pinta Hilal, suaranya terdengar ragu, tetapi sedikit mendesak. Dia memaksakan seulas senyum canggung untuk menutupi kegugupannya. “Gak enak rasanya kalau aku masuk, tapi tamu masih ada di depan rumah.”
Kavian menatap mata temannya. Sesaat mata mereka bertemu, tetapi mata Hilal lebih dulu beralih pandang, menyiratkan kecemasan yang tidak terucap.
“Oke, gue pulang ya.” Kavian mengerti. Dia tidak ingin memperpanjang rasa tidak nyaman itu. Dia menengok ke belakang, memastikan jalanan lengang, lalu memutar balik motornya dengan cekatan. Namun, sebelum benar-benar menarik gas, Kavian menoleh sekali lagi sambil menyeringai lebar. “Oh iya, satu lagi. Panggilan gue ‘Yan’, bukan ‘Kav’. Besok-besok panggil ‘Yan’, ya!” serunya santai.
Tangan kanan Kavian terangkat, melambaikan salam perpisahan singkat, sebelum akhirnya motor hitam itu melaju menjauh, meninggalkan suara knalpot yang perlahan hilang ditelan sunyi.
Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar terlalu nyaring malam ini, seolah setiap suapan serupa dosa yang harus dihitung.
Di ruang makan yang didominasi warna putih bersih, Hilal duduk menunduk, menatap nasi putih dan sayur bening bayam di piringnya yang baru berkurang separuh. Di seberangnya, Azhari makan dengan tenang, khusyuk, dan teratur. Pria itu masih mengenakan baju koko putih lengan panjang dan sarung, sisa pakaian dari sholat Isya berjamaah di musala tadi.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada obrolan ringan. Satu-satunya suara yang diizinkan mengisi kekosongan udara di rumah itu hanyalah lantunan ayat suci Alquran dari Syekh Mishary Rashid yang berputar pelan lewat pengeras suara di sudut ruangan.