Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #21

Bab 19

Pagar hitam yang ditutup dari luar itu berderit kecil, seolah mengeluh pada dinginnya subuh yang masih menggigit. Senin pagi di rumah itu tidak dimulai dengan sapaan hangat atau aroma kopi, melainkan dengan ketukan disiplin langkah kaki Azhari yang memimpin di depan, membelah kabut tipis menuju musala terdekat. Hilal mengekor patuh dua langkah di belakang punggung ayahnya yang tegap, menundukkan pandangan ke aspal basah, menjaga jarak sekaligus menjaga adab. Di bawah sisa-sisa kegelapan langit, siluet ayah dan anak itu tampak seperti arak-arakan bisu yang bergerak dalam satu garis lurus ketaatan yang kaku. Azhari adalah komandan yang tidak terbantahkan, sementara Hilal hanyalah prajurit yang tidak memiliki hak untuk bertanya, hanya untuk bersujud.

Sementara itu, dari balik jendela rumah, Suhunia mengamati kepergian keduanya. Setelah dirasa cukup jauh, dia segera menutup jendela dan mengunci pintu utama rumah. Dia melangkah cepat menuju kamarnya seraya membawa kursi.

Sesampainya di kamar, Suhunia meletakkan kursi itu tepat di bawah akses plafon di sudut ruangan, dekat lemari pakaian. Tanpa membuang waktu, dia naik ke atas kursi, berjinjit, lalu mendorong plafon yang terbuat dari gipsum yang sudah dia hafal betul letaknya.

Panel tergeser tanpa suara, menampilkan rongga gelap di balik atap rumah yang berdebu. Tangan Suhunia merogoh ke dalam kegelapan, meraba-raba hingga jemarinya menyentuh permukaan dingin, yaitu sebuah benda logam.

Dia menarik benda itu keluar: Kaleng biskuit kotak berkarat yang sudah lama kehilangan gambar aslinya. Inilah brankas rahasianya. Satu-satunya tempat di rumah ini yang tidak tersentuh oleh tangan Azhari, bahkan Hilal sekalipun.

Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi gaduh, Suhunia membuka tutup kaleng tersebut.

Di dalam kaleng itu, tergeletak novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur milik Hilal yang posisinya agak miring karena berdesakan dengan gulungan uang kertas kumal dan tumpukan uang logam hasil upah menjahit. Suhunia menyisihkan novel itu sejenak, mengabaikan beberapa butiran debu yang menempel di sampulnya, lalu menyingkirkan tumpukan uang receh yang menutupi dasar kaleng.

Di sanalah benda yang dia cari bersembunyi. Di bagian paling dasar kaleng, tertimbun di bawah uang dan buku, terselip satu strip obat yang dia jaga nyawanya melebihi apa pun.

Bukan pil KB, melainkan pil kontrasepsi darurat.

Suhunia menatap lekat pil itu. Semalam, Azhari memaksakan kehendaknya tanpa pengaman, berdalih bahwa anak sebagai rezeki yang haram untuk ditolak dan melayani suami sebagai tiket surga. Namun, Suhunia punya logika lain. Baginya, menghadirkan nyawa baru di rumah ini sama saja dengan menyetor satu lagi korban untuk dipenjara. Dengan tangan gemetar, dia merobek kemasan alumunium itu, mengeluarkan butir pil kecil tersebut, dan langsung menelannya bulat-bulat tanpa bantuan air. Rasa pahit obat itu lumer di tenggorokannya, menyatu dengan rasa getir akan nasibnya.

Pukul sembilan pagi. Rumah kini telah kembali menjadi miliknya sepenuhnya, setidaknya untuk beberapa jam ke depan. Azhari sudah memacu motornya menuju gudang kembang api sejak pukul enam tadi, sekaligus mengantarkan Hilal ke sekolah. Begitu suara knalpot suaminya benar-benar lenyap ditelan jarak, Suhunia melakukan ritual wajibnya: memutar kunci pintu utama dua kali dan memastikan gembok pagar terkunci rapat.

Lihat selengkapnya