Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #22

Bab 20

Senin pagi, 21 September 2020.

Langit terang benderang membentang luas, seakan merestui keringat-keringat yang telah diperas sejak tadi di mata pelajaran Olahraga. Materi Pencak Silat berjalan dengan intensitas yang pas. Tidak ada kaki yang keseleo atau emosi yang terpancing saat praktik berpasangan. Hilal, yang biasanya kaku, justru menemukan ritme yang mengalir dalam setiap kuda-kuda dan tangkisan, seolah membiarkan tubuhnya melampiaskan beban pikiran lewat hentakan tenaga yang terukur.

Suara peluit panjang Kasnawi akhirnya memecah udara, menghentikan riuh teriakan siswa kelas XI yang napasnya sudah memburu. Pria dengan topi rimba dan kaos polo berkerah itu berkacak pinggang, menatap anak didiknya dengan senyum puas yang jarang dia pamerkan.

“Oke, cukup! Kumpul semua, luruskan kaki!” seru Pak Kasnawi, suaranya lantang mengalahkan bising kendaraan dari jalan raya di luar pagar sekolah. “Bapak bangga sama semangat kalian hari ini. Power kalian keluar semua, kuda-kuda juga sudah cukup bagus. Ingat, silat itu bukan buat sok jagoan gebukin orang di pengkolan, tapi buat melatih fokus dan kontrol diri. Pertahankan semangat ini buat minggu depan dan seterusnya. Sekarang silakan ganti baju, minum yang banyak, jangan sampai dehidrasi!”

“Siap, Pak!” seru para siswa serempak, kemudian para murid mulai bubar.

Hilal dan Kavian berjalan beriringan menuju kelas. Sesampainya di dalam kelas yang mulai riuh oleh aroma keringat dan keluhan lelah, Hilal tidak ikut mengempaskan punggung ke sandaran kursi seperti anak-anak lain.

Sekarang, tangan Hilal justru sibuk merogoh tas ransel di mejanya. Dia mengeluarkan seragam putih-abu yang terlipat rapi dan handuk kecil. Kakinya sudah bersiap melangkah keluar menuju toilet, tempat favoritnya untuk berganti pakaian karena sepi dibanding ruang kelas. Bagi Hilal, keringat adalah kotoran, dan kotoran tidak boleh menempel terlalu lama di tubuh. Namun, belum sempat dia beranjak, sebuah tangan menahan pelan punggung tangannya di atas meja.

Hilal menoleh.

“Lo mau langsung ganti baju?” tanya Kavian sambil menyeka keringat di pelipis. Napasnya masih agak memburu, wajahnya merah padam terpapar matahari.

Hilal mengangguk mantap. “Iya.”

“Nanti dulu aja. Emang badan lo gak masih panas?” Kavian melepas tangannya, lalu menarik kerah kaos olahraganya sendiri, mengibas-ngibaskannya untuk menciptakan angin buatan. “Santai dulu aja di sini.”

Hilal terdiam, kakinya tertahan di samping meja. Argumen itu sebenarnya bertentangan dengan kebiasaannya. Biasanya, dia tidak akan membiarkan jeda. Selesai olahraga, ganti baju, lalu wudu, baru duduk tenang. Menunda berarti memberi ruang untuk malas.

Hilal menengok ke dinding kelas. Di sana terdapat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan lewat sedikit. 

Kavian ikut menengok. “Pak Bambang masih 30 menit lagi, Lal. Masih ada waktu ganti baju. Ganti baju cuma lima menitan ‘kan?”

Hilal menatap teman semejanya. Melihat Kavian yang sudah duduk santai sambil meluruskan kaki di bawah meja membuat pertahanan Hilal mulai goyah. Rasa lelah di betisnya juga merayu untuk diistirahatkan sejenak.

Lihat selengkapnya