Atap seng gudang dihajar tanpa ampun oleh matahari pukul satu siang, membuat udara di dalamnya seperti oven raksasa yang menguapkan aroma belerang dan keringat kecut.
Azhari, satu-satunya orang yang seakan tidak diizinkan untuk meleleh oleh suhu ekstrem, berdiri tegak di tengah lorong Area Pengemasan, . Kemeja kerja abu-abu kusamnya tetap terkancing rapat sampai ke leher, sebagai bentuk disiplin kaku yang dia pertahankan mati-matian, meski punggungnya sendiri mungkin sudah banjir keringat. Dia baru saja kembali dari ritual salat Zuhur yang singkat dan panas ini seolah menjadi ujian kesabaran tambahan yang dikirim oleh Tuhan.
Di sekelilingnya, tiga orang pekerja harian seakan bergerak lambat. Kipas angin dinding yang berdebu di sudut ruangan hanya mampu memutar angin neraka, sama sekali tidak memberi kesejukan selain suara desing baling-baling yang berisik dan berulang-ulang, ibarat menghitung detik menuju ledakan emosi.
“Jangan diseret!” tegur Azhari tajam. Suaranya tidak berteriak, tetapi berhasil membuat seorang pekerja muda yang sedang memindahkan tumpukan kardus tube selongsong kembang api tersentak kaget. Pekerja muda itu buru-buru mengangkat kardus, meski wajahnya memberengut menahan berat dan panas.
“Maaf, Pak Azhari. Licin tangannya, keringetan,” gumam pekerja itu.
Azhari tidak menjawab, tetapi matanya masih menatap tajam, seperti sedang menghitung dosa pemuda itu.
Sekarang, Azhari melangkah mendekati meja inspeksi panjang tempat ratusan tabung kembang api jenis cake 1.2 inci berjejer menunggu kering.
Mata Azhari menyipit. Ada sesuatu yang salah pada tekstur permukaan kertas kraft pembungkus tabung itu, yaitu warnanya tidak rata.
Dia menjulurkan tangan, menyentuh salah satu selongsong. Ujung jarinya merasakan sensasi yang membuatnya menahan napas: Lengket. Lem perekat yang seharusnya sudah mengeras sempurna kini kembali melunak karena suhu panas ekstrem yang terperangkap di gudang, membuat lapisan kertas terluar sedikit menggelembung dan terkelupas di bagian sambungannya.
Azhari berdecak. Panas ini bukan hanya menyiksa manusia, tetapi juga menghancurkan barang dagangannya.
Belum sempat dia berpikir untuk mencari solusi, suara derit pintu besi gudang yang didorong paksa memecah fokusnya. Cahaya matahari yang menyilaukan menerobos masuk, diikuti oleh siluet seorang pria bertubuh gempal dengan kemeja batik yang bagian ketiaknya sudah basah oleh keringat.
Itu Burhan, perwakilan distributor utama dari kota sebelah yang hari ini dijadwalkan untuk inspeksi final.
Wajah Azhari menegang seketika. Dia ingat betul catatan di papan jadwal produksi tadi pagi: Kirim: Distributor Burhan (21/9). Tenggat waktunya hari ini.
“Siang, Pak Azhari! Astaga, panasnya luar biasa, ya. Kayak lagi simulasi di Padang Mahsyar,” sapa Burhan dengan tawa basa-basi yang keras sambil mengibaskan sapu tangan ke lehernya yang berlipat.