Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #24

Bab 22

Senin malam, 21 September 2020. Langit Jakarta sudah gelap sempurna, menyisakan polusi cahaya yang memantul di awan rendah. Berbeda dengan suasana mencekam di meja makan keluarga lain beberapa kilometer dari sana, rumah ini justru terasa hidup, riuh, dan hangat, seolah dinding-dindingnya memang dirancang untuk menyerap tawa.

Pendingin ruangan di ruang tengah berdesis samar, tetapi suaranya kalah jauh oleh gelak tawa penonton bayaran dari acara komedi di televisi. Volumenya diputar cukup kencang, bersahutan dengan bunyi kunyahan renyah roti bakar. 

Kavian, yang paginya baru saja berbagi "dosa-dosa" kecil, kini sedang merebahkan punggungnya di sofa ruang tengah. Kakinya bertengger santai di sandaran lengan sofa, sebuah posisi yang di rumah lain mungkin dianggap pelanggaran berat terhadap kesopanan dan adab, tetapi di sini hanyalah pemandangan biasa. Di tangannya, sepiring roti bakar selai cokelat yang asapnya masih mengepul sedang disantap.

Aroma margarin dan manisnya cokelat yang terpanggang menguar, menyusup sampai ke dapur yang letaknya memang menyatu tanpa sekat dinding. Di sana, Yuli Astuti berdiri menghadap wastafel cuci piring. Tangannya lincah membasuh peralatan tempur sisa makan malam. Suara air keran yang mengucur deras beradu dengan denting piring keramik dan gelas kaca, menciptakan irama rumah tangga yang sibuk, tetapi menenangkan.

“Si Hilal suka cuminya, Yan?”

Kavian menengok sambil mengambil remot, menurunkan volume televisi. “Kenapa, Ma?”

“Hilal suka cumi masakan Mama?” tanya Yuli setengah berteriak agar suaranya terdengar sampai ruang tengah. Dia mematikan keran air sebentar, mengibaskan tangannya yang basah karena busa sabun.

“Suka, kok. Selalu habis dimakan sama dia,” jawab Kavian santai, lalu menggigit ujung roti bakarnya yang renyah. “Bukan cuma suka, Ma. Dia makannya lahap banget tadi. Kayak orang yang baru nemu harta karun.”

Yuli tersenyum simpul, kembali menyalakan keran untuk membilas. “Syukur, deh. Mama tuh tadi pas masukin bekal agak ragu, takutnya kepedesan buat dia. Soalnya muka temanmu itu, lho, Yan. Kalem banget. Kayak muka-muka anak alim yang gak doyan pedas.”

“Justru itu, Ma,” Kavian mengubah posisi duduknya menjadi bersila menghadap ke arah dapur. “Bekal dia tuh biasanya hambar. Sehat, sih, ada sayur rebus sama ayam goreng, tapi kayak masakan rumah sakit. Makanya pas ketemu cumi asin Mama yang kaya bumbu, lidah dia kayak kaget gitu.”

Kavian terkekeh kecil mengingat ekspresi Hilal siang tadi. “Dia makannya cepet banget, Ma. Kayak takut makanannya bakal diambil lagi kalau dia ngunyahnya kelamaan.”

Belum sempat Yuli menanggapi, tiba-tiba terdengar suara gema yang berat menyahut dari arah kamar mandi yang pintunya tertutup rapat.

“Itu namanya perbaikan gizi, Ma! Lidahnya kaget ketemu micin enak!” seru Darsa dari dalam sana, di sela-sela “panggilan alam”-nya.

Kavian dan Yuli menoleh serempak ke arah pintu kamar mandi.

“Pa!” seru Yuli setengah geli, setengah jengkel. “Konsentrasi aja di situ! Pakai nyahut-nyahut, lagi.”

“Lho, Papa kan punya kuping, Ma. Dengerin kalian ngomongin makanan jadi laper lagi nih,” sahut Darsa lagi, diikuti suara gayung yang beradu dengan bak mandi.

Kavian menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. “Papa tuh, Ma. Di kamar mandi aja masih sempet-sempetnya nguping.”

“Emang tukang kepo Papa.” Yuli hanya menghela napas sambil tersenyum, lalu kembali membilas piring terakhir. “Tapi kasihan juga si Hilal kalau tiap hari makannya hambar begitu. Besok-besok kalau Mama masak enak lagi, kamu bawain lagi buat dia.”

“Siap, Bos,” jawab Kavian, kembali menyandarkan punggungnya ke sofa.

Lihat selengkapnya