Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #25

Bab 23

Pagi ini langit dirundung duka. Cerahnya hilang, panasnya tenggelam, sedang awan berubah kelam. Angin berembus membawa aroma tanah basah yang pekat, sebuah pertanda alamiah bahwa hujan di bulan ini telah bersiap turun untuk membasuh debu kota yang menumpuk selama hari-hari ke belakang. Bagi sebagian orang, mendung ini berkah kesejukan, tetapi bagi Hilal yang duduk kaku di boncengan motor PCX ayahnya, mendung ini cerminan sempurna dari suasana hatinya.

Motor PCX tersebut berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang mulai ramai. Azhari menurunkan standar samping dengan hentakan kaki yang tegas. Tidak ada obrolan hangat sepanjang perjalanan, hanya punggung tegap Azhari yang menjadi tembok pemisah antara Hilal dan jalanan.

Manusia muda itu turun perlahan. Wajahnya tertutup masker berwarna hitam, sebuah pemandangan yang ganjil karena dia jarang sekali sakit. Namun, di balik kain tipis itu, pipi kirinya berdenyut nyeri, menyembunyikan lebam panjang kemerahan berbentuk empat jari.

“Ingat,” ucap Azhari dingin tanpa menoleh, matanya lurus menatap spion. “Jangan buat salah lagi. Belajar yang benar.”

“Iya, Bi,” jawab Hilal lirih, suaranya teredam masker.

Saat Hilal hendak mencium tangan ayahnya, sebuah mobil sedan tua yang terawat mengilap berhenti perlahan di belakang motor Azhari. Pintu penumpang terbuka, Kavian melompat keluar dengan seragam yang sedikit berantakan di bagian kerah, kontras dengan Hilal yang rapi.

Kavian melihat Hilal, lalu matanya menangkap seorang yang berada di atas motor PCX itu. Naluri ramahnya menyala otomatis. Dia berjalan mendekat, berniat menyapa teman sebangkunya sekaligus memberi salam hormat pada orang tua temannya.

“Pagi, Om!” sapa Kavian riang. Dia mengulurkan tangan kanannya, mengajak bersalaman.

Azhari menoleh pelan. Matanya yang tajam menyapu Kavian dari ujung rambut yang agak gondrong sampai sepatu kets yang warnanya sedikit mencolok. Tatapan itu bukan tatapan ramah, melainkan tatapan inspeksi yang merendahkan. Di mata Azhari, anak ini terlihat "kurang beres".

Azhari tidak menyambut uluran tangan itu. Dia hanya mengangguk sekilas, sangat tipis, nyaris tidak terlihat, lalu kembali menatap Hilal.

“Sana masuk,” perintah Azhari.

Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk berbasa-basi dengan Kavian, Azhari menarik gas motornya. Mesin PCX menderum halus dan menjauh dengan cepat, meninggalkan Kavian yang tangannya masih menggantung canggung di udara.

Kavian tertegun sejenak, lalu menurunkan tangannya sambil mendengus pelan. Dia menoleh ke belakang, ke arah mobil sedan ayahnya yang kaca jendelanya terbuka separuh.

Di balik kemudi itu, Darsa Haidar melihat semuanya. Dia melihat bagaimana tangan anaknya diabaikan. Dia melihat sorot mata dingin pengendara motor itu. Selain itu, yang paling penting, dia melihat bahu Hilal yang merosot lesu.

Lihat selengkapnya