Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #26

Bab 24

Bayangan yang semula lurus itu kini melenting. Bagian kepalanya mundur belakang, sedang bagian bawa kepalanya condong ke depan, seakan berusaha menghindarkan sesuatu dari air yang kini mengalir dari gayung kamar mandi.

Air itu tumpah membasahi dada dan perutnya, meluncur deras melewati pusar, lalu jatuh menghantam lantai keramik tanpa sempat berbelok ke punggung. Hilal melakukan gerakan itu dengan kehati-hatian. Dia tahu, satu gerakan salah yang membuat aliran air itu mampir ke punggungnya, maka dia harus membayar harganya dengan rasa perih yang luar biasa.

Bagian belakang tubuhnya ibarat zona terlarang sore ini, juga sore-sore yang lalu ketika punggungnya “dihancurkan” ayahnya sendiri. Jalur-jalur merah bekas sabetan sabuk kulit semalam masih terlalu "mentah" untuk disentuh, apalagi diguyur.

Hilal mendesis panjang. Meski sudah melengkungkan badan sedemikian rupa, cipratan kecil air sabun tetap saja nakal mendarat di luka terbukanya. Rasanya seperti ada jarum halus yang menusuk kulit, memaksanya memejamkan mata menahan ngilu. Di kamar mandi yang lembap dan tertutup ini, dia tidak perlu memakai masker atau pura-pura tegar seperti di sekolah tadi. Di sini, dia hanyalah anak laki-laki yang sedang kesakitan.

Hilal menatap pantulan dirinya di permukaan air bak mandi yang tenang. Bayangan wajahnya bergoyang pelan, membawanya hanyut pada ingatan beberapa jam lalu. Ingatan tentang aroma minyak kayu putih dan satu-satunya tempat di sekolah yang tidak menghakiminya hari ini.

Ruang UKS sunyi. Terlalu sunyi, malah. Entah ke mana perginya anak PMR yang seharusnya berjaga. Mungkin mereka sedang curi-curi waktu ke kantin sebelum bel masuk berbunyi, atau mungkin Tuhan memang sengaja mengosongkan ruangan beraroma antiseptik itu khusus untuk mereka berdua.

Hilal duduk di tepi ranjang besi dengan kaki menggantung. Di tangannya ada segelas teh hangat yang uapnya menari-nari di udara, satu-satunya benda yang bisa dia genggam untuk meredakan gemetar tangannya. Di kursi besi sebelahnya, Kavian duduk dengan posisi condong ke depan, siku bertumpu pada lutut, menatapnya dengan intensitas yang tidak biasa.

Kavian menatap lurus ke arah mata Hilal, seolah sedang mencoba mengirimkan sinyal darurat.

“Lal, dengerin gue,” ucap Kavian pelan tapi tegas, memecah hening yang hanya diisi suara kipas angin dinding.

Hilal menoleh ragu, masih takut untuk sepenuhnya percaya.

“Gue gak tahu ada apa di rumah lo,” lanjut Kavian, suaranya merendah. “Gue gak akan paksa lo cerita sekarang, tapi kalau lo butuh kabur, lari ke rumah gue. Kalau lo butuh pertolongan, telepon gue. Kapanpun.” Kavian menekan kata terakhirnya dengan sungguh-sungguh.

“Pintu rumah gue kuncinya akan selalu rusak buat lo. Selalu kebuka.”

Hilal tertegun. Tawaran itu terdengar seperti dongeng di telinganya, sebuah perahu penyelamat di tengah badai yang dia pikir harus dia hadapi sendirian selamanya. Dia tidak berani mengiyakan karena takut berharap, tetapi dia juga tidak sanggup menolaknya.

Hening dan canggung menyergap. Hilal merasa perlu mengalihkan perhatian. Dia berniat meletakkan gelas teh yang isinya tinggal setengah itu ke atas meja nakas di samping kepala ranjang.

Itu seharusnya gerakan yang sederhana. Hanya perlu memutar sedikit pinggangnya ke kiri dan menjulurkan tangan. Namun, bagi tubuh yang sedang remuk redam itu, gerakan tersebut adalah kesalahan fatal.

Saat lengan Hilal terulur dan otot punggungnya tertarik mengikuti gerakan bahu, sensasi perih yang menyengat seketika meledak di balik seragamnya. Rasanya seolah kulit punggungnya yang baru saja mengering dipaksa robek kembali.

Hilal mengerang tertahan. Wajahnya meringis kesakitan, tubuhnya menegang kaku di tengah gerakan. Gelas di tangannya goyah, nyaris terlepas karena saraf tangannya ikut lemas menahan ngilu.

Kavian, yang matanya tidak sedetik pun lepas dari Hilal, bergerak secepat kilat. Sebelum gelas kaca itu jatuh atau isinya tumpah mengotori seprai UKS, tangan Kavian sudah lebih dulu menyambar dan mengamankannya.

“Jangan dipaksa gerak kalau sakit, Lal,” tegur Kavian, nadanya cemas. Dia meletakkan gelas itu ke meja nakas.

Saat Kavian berbalik kembali menatap temannya, napas Hilal masih memburu menahan nyeri. Tarikan napas yang berat itu membuat masker medis yang sejak pagi menempel ketat sedikit melorot di sisi kiri.

Lihat selengkapnya