Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #27

Bab 25

Hujan datang tanpa ampun, membasuh jalan yang kering, membasuh pula rumah yang atapnya menganga karena genting melorot beberapa senti itu. Airnya masuk ke dalam, menyerap ke plafon, dan tembus sampai ke dalam kamar.

Di bawah sana, agar tidak menembus ke kasur, baskom menjadi tamengnya. Setetes demi setetes, tetapi lama kelamaan cukup banyak hasil tampungan rembesannya. Terhitung sampai Maghrib, sudah setengah penuh baskom itu.

Sementara itu, di luar pagar, Azhari menghentikan motornya. Dia turun untuk membuka pagar. Meski diselimuti jas hujan, tetapi air yang terbawa angin membuat wajahnya basah. Dia segera kembali naik ke motor begitu pagar dibuka.

Suara derum halus motor yang masuk ke halaman terdengar seperti lonceng peringatan bagi dua nyawa di dalam rumah.

Di ruang tengah, Hilal dan Suhunia yang sejak tadi duduk diam mendengarkan bunyi hujan, serentak bergerak. Seperti prajurit yang mendengar terompet komandan, mereka memaksakan tubuh-tubuh yang sedang rusak itu untuk bangkit berdiri.

Hilal menegakkan punggungnya kaku-kaku, menahan desis perih saat kaosnya kembali bergesekan dengan luka cambuk. Di sebelahnya, Suhunia berdiri dengan bertumpu sepenuhnya pada kaki kiri, menyembunyikan kaki kanannya yang berbalut perban di balik gamis panjang, berusaha terlihat sesehat mungkin.

Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas mereka yang tertahan dan detak jantung yang berpacu dengan suara rintik hujan.

Gagang pintu perlahan berputar.

Begitu pintu utama terbuka, angin dingin dan cipratan air terbawa dari luar. Azhari melangkah masuk. Sosoknya tampak besar dan mengintimidasi dalam balutan jas hujan model ponco yang basah kuyup. Air menetes deras dari ujung-ujung plastik jas hujan itu, menciptakan genangan kecil di lantai yang bersih.

“Assalamualaikum.” Suara itu berat, datar, dan tanpa emosi. Bukan sebuah doa keselamatan untuk penghuni rumah, lebih mirip presensi kehadiran yang menuntut jawaban instan.

Azhari berdiri di ambang pintu. Jas hujan ponco yang berwarna gelap berkilauan tertimpa cahaya lampu ruang tengah, basah kuyup oleh hujan yang mengguyur perjalanan dari tempat kerjanya. Wajahnya keruh. Seharian mengurus inventaris di gudang yang lembap, ditambah pengiriman yang terhambat dan penjualan yang menurun, membuat sumbu kesabarannya memendek drastis sore ini.

“Waalaikumsalam, Bi,” jawab Hilal dan Suhunia hampir berbarengan, suara mereka menciut, bersaing dengan gemuruh hujan di luar.

Tanpa sepatah kata, Azhari mulai melepas jas hujan ponco yang melekat di tubuhnya. Plastik tebal itu memercikkan basah saat ditarik melewati kepala. Hilal, menyadari kondisi kaki ibunya yang tidak memungkinkan untuk bergerak gesit, langsung melangkah maju sebelum diminta. Dia menyambut onggokan plastik basah dan berat itu dari tangan ayahnya dengan takzim, seakan pelayan yang melayani rajanya.

Azhari merapikan kerah kemejanya yang sedikit lembap, lalu melangkah tegas menuju kamar utama. Niatnya untuk segera berganti pakaian kering seketika lenyap tepat saat kakinya melewati ambang pintu. Tubuh tegapnya mendadak kaku, berhenti total seolah menabrak tembok tidak kasat mata. Pandangannya tidak tertuju pada lemari pakaian, melainkan terkunci dengan sorot jijik pada lantai di tengah ruangan, tempat sebuah baskom plastik kini bertahta, menampung aib rumahnya yang menetes dari langit-langit.

“Lihat ini. Rumah kayak kandang. Pantas proyek gagal, rezeki seret,” ucap Azhari dengan wajah datar. Kemudian, dia menengok pada Hilal dan Suhunia. “Kalian tahu? Malaikat pun jijik masuk ke rumah yang jorok dan bau apek begini. Gimana doa-doa saya mau dikabulkan kalau atap rumah saja kalian biarkan jadi sarang air?”

Lihat selengkapnya