Matahari siang yang terik menerobos masuk melalui kaca jendela, menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruang tengah yang senyap itu. Suhunia sengaja tidak menyalakan lampu karena setiap watt listrik seperti musuh yang harus dihemat di rumah ini. Dia duduk di kursi kayu, punggungnya membungkuk, sementara tangan kanannya bergerak konstan menusuk kain dengan jarum. Di hadapannya, kaki kanannya disangga di atas meja kecil beralas bantal tipis, menampilkan perban putih yang mulai kusam itu.
Setiap kali benang di tangannya tersangkut atau dia harus sedikit menggeser posisi duduknya, wajah Suhunia mengernyit menahan detak nyeri yang menjalar dari tumit hingga ke pangkal paha. Rasa sakit itu nyata, berdenyut seirama dengan detak jantungnya, tetapi tangannya tidak berhenti bekerja. Dia terus menjahit, matanya menyipit fokus pada lubang jarum. Baginya, rasa sakit fisik itu masih bisa ditoleransi dibandingkan rasa sakit tidak memiliki uang pegangan jika sewaktu-waktu bencana datang lagi.
“Permisi ... Bu Nia?”
Suara panggilan dari balik pagar memecah keheningan siang itu. Suhunia mengenali suara bariton yang sopan itu, pemuda anak indekos di ujung gang, mahasiswa keperawatan yang beberapa waktu lalu pernah menjahitkan celana padanya. Dengan hati-hati, Suhunia meletakkan jarum dan kain di meja, lalu menarik napas panjang untuk mengumpulkan tenaga. Dia memaksakan tubuhnya berdiri, bertumpu berat pada kaki kiri, lalu berjalan menyeret langkah menuju pintu depan sambil merapikan jilbab bergonya yang sedikit miring.
Sesampainya di teras, Suhunia tidak membuka gembok pagar. Dia hanya berdiri di balik jeruji besi hitam yang menjulang, membiarkan penghalang itu tetap ada antara dirinya dan dunia luar. Di hadapannya, pemuda yang berada di atas motor itu tersenyum canggung sambil menyodorkan kain berwarna hijau tua lewat celah pagar. Itu adalah baju scrubs, seragam medis untuk jaga malam, yang tampak robek di bagian jahitan lengan.
“Maaf, ya, Bu, ngerepotin siang-siang,” ucap pemuda itu dengan nada sungkan. “Ini baju buat dinas nanti malam, eh malah sobek. Saya langsung lari ke sini karena jahitan celana hitam Ibu waktu itu awet banget. Malah lebih kuat dari jahitan konveksinya, Bu. Jadi saya percaya cuma Ibu yang bisa benerin ini biar gak malu-maluin pas jaga.”
Suhunia menerima seragam itu lewat celah pagar. Namun, saat dia sedikit menggeser tubuhnya untuk memindahkan tumpuan berat ke kaki kiri, gerakan kaku itu tertangkap oleh mata jeli si pemuda. Pandangannya jatuh ke bawah, menembus sela jeruji pagar ke arah pergelangan kaki Suhunia yang terbebat tebal.
“Lho, Bu? Kakinya kenapa? Kok diperban begitu?” tanyanya spontan, keningnya berkerut cemas layaknya seorang calon tenaga medis melihat pasien.
Suhunia tersentak. Dia reflek menarik kaki kanannya mundur, menyembunyikannya lebih dalam di balik kain gamis panjangnya seolah menyembunyikan aib besar. “Gak apa-apa, Mas. Cuma ... kesandung sedikit,” elaknya cepat dengan nada defensif, menutup rapat celah untuk pertanyaan lebih lanjut. “Nanti sore setelah Asar bisa diambil, ya, Mas.”
Pemuda itu mengangguk percaya lalu pergi.
Suhunia segera menutup pintu dan memutar kunci dua kali. Di tangannya kini tergenggam dua lembar uang sepuluh ribuan, upah di muka yang sangat dia butuhkan. Biasanya, langkah selanjutnya adalah mengambil kursi, memanjat, dan menyimpannya ke dalam "brankas" kaleng di atas plafon. Namun, saat dia mendongak menatap langit-langit kamar, denyut nyeri di tumitnya langsung mengirim sinyal penolakan keras. Dia tidak mungkin memanjat dengan kaki pincang begini. Akhirnya, dengan perasaan waswas yang menggantung, Suhunia menyelipkan uang itu ke balik pakaian dalamnya, tepat di sisi kiri bra-nya, satu-satunya tempat "aman" yang bisa dia jangkau saat ini meski rasanya jauh lebih rapuh daripada dinding besi kalengnya.