Alih-alih berdesakan di deretan keran luar tempat siswa lain bersenda gurau sambil menyipratkan air, Hilal memilih mengunci diri di salah satu bilik toilet paling ujung. Baunya sedikit pengap, tetapi baginya, ini bentuk benteng pertahanan paling aman. Dia memutar keran plastik pelan-pelan, membiarkan air mengalir kecil. Saat tangannya membasuh wajah, gerakannya melambat drastis di sisi kiri pipi. Air dingin yang menyentuh kulit lebam kebiruan itu mengirimkan sengatan perih hingga ke rahang. Hilal meringis tanpa suara, menahan napas sejenak, lalu buru-buru mengeringkan wajahnya yang basah dan kembali memasang masker medisnya rapat-rapat hingga menutupi separuh wajah. Baginya hari ini, masker itu bukan lagi pelindung virus, melainkan penutup aib agar tidak ada satu pun mata yang bertanya perihal pipinya.
Di ruang utama musala yang padat, Hilal menyelip masuk ke barisan ketiga. Secara natural, langkahnya terhenti tepat di samping Kavian yang menyisakan celah kosong untuknya. Kavian menoleh sekilas, mengenali sosok bermasker di sebelahnya, lalu memberikan anggukan kecil, tanda pertemanan tanpa suara yang membuat bahu tegang Hilal sedikit rileks. Rasanya jauh lebih aman berdiri di samping Kavian daripada orang asing lain.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekejap. Begitu takbir, keheningan menyelimuti rakaat, dan pertarungan batin Hilal dimulai. Di balik masker yang menyembunyikan pipi lebamnya, setelah membaca iftitah, bibirnya bergerak mengeja Al-Fatihah. Dia tidak sedang menikmati dialog dengan Tuhan, melainkan merasa sedang diawasi oleh bayangan wajah Azhari yang siap menghukumnya jika huruf H-nya terdengar terlalu tebal atau terlalu tipis sedikit saja.
Sementara itu, ketika dirinya masih sibuk dengan surat tersebut, samar-samar dia mendengar ayat lain yang dibaca orang di sampingnya, yaitu Kavian. “Wa may yattaqillaha yaj'al lahu makhraja wa yarzuqhu min haisu la yahtasib.”
Hilal tertegun, bacaan Al-Fatihahnya sendiri sempat terhenti sejenak. Makhraja. Jalan keluar. Kata itu berdenging di telinganya, menyusup masuk menembus benteng ketakutannya. Itu ayat tentang janji Tuhan: Sebuah jalan keluar dari kesempitan dan rezeki yang tidak disangka-sangka.
Hati Hilal berdesir hebat, menciptakan ironi yang meraut batinnya. Dia melirik sekilas lewat ekor matanya. Bagaimana mungkin Kavian, anak yang semalam dicap habis-habisan oleh ayahnya sebagai "sampah pergaulan" dan "calon penghuni neraka", justru mampu melafalkan ayat penuh harapan itu dengan begitu fasih dan tenang? Di telinga Hilal siang ini, bacaan Kavian terdengar jauh lebih "sampai" ke langit dibandingkan doanya sendiri yang penuh ancaman dan rasa takut.
Salam penutup pengakhiran salat seketika memecah kekhusyukan menjadi kericuhan kecil siswa yang berebut mencari sepatu di teras musala. Hilal bergerak cepat, berniat segera kembali ke kelas untuk membuka kotak bekalnya yang sederhana. Namun, baru saja dia membungkuk mengikat tali sepatu kanannya yang kusam, Kavian sudah berjongkok di sebelahnya sambil menenteng sepatu sendiri.
“Lal, ke kantin sebentar, yuk. Temenin gue beli bakso ikan,” ajak Kavian santai.
Hilal menatap ragu. “Aku bawa bekal, Yan.”