Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #30

Bab 28

Ruangan kerja Layyah yang berpendingin udara itu hening, kontras dengan gemuruh produksi di luar sana. Namun, bagi Azhari yang berdiri kaku di depan meja mahoni besar itu, keheningan ini jauh lebih menyiksa.

Di hadapan Azhari, Layyah sedang menekuni selembar kertas laporan biaya dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Pena emas di tangan pemilik pabrik itu bergerak pelan, lalu berhenti tepat di satu baris yang menjadi sumber masalah sejak dua hari lalu: Perbaikan Batch 19B Stars Red. Lingkaran merah yang kemudian digoreskan Pak Layyah di sekitar tulisan itu terasa seperti jerat yang mencekik leher Azhari, menandai bahwa batch kembang api itu bukan lagi sekadar produk gagal, melainkan simbol inkompetensi yang mahal harganya.

“Kamu tahu berapa totalnya ini, Zhar?” Layyah akhirnya bersuara tanpa menaikkan intonasi, jari telunjuknya mengetuk pelan angka nominal di kertas.

Azhari memilih diam, mulutnya bisu karena dia tahu jawaban apa pun hanya akan terdengar seperti pembelaan diri yang menyedihkan.

“Tiga juta. Cuma buat beli kertas kraft baru, lem baru, sama bayar upah lembur anak-anak buat menguliti barang cacat itu.” Layyah menghela napas panjang, lalu melepas kacamatanya dan menatap Azhari dengan sorot mata kecewa yang tajam. “Ini namanya ongkos kebodohan, Zhar. Uang yang seharusnya masuk jadi profit perusahaan, malah harus dibakar cuma-cuma hanya karena kamu kurang teliti mengecek suhu gudang.”

Kata kebodohan itu bergaung di telinga Azhari, jauh lebih nyaring dan menyakitkan daripada ledakan petasan jenis apa pun. Rahangnya mengeras, gigi-giginya beradu menahan gejolak protes yang sudah sampai di ujung lidah. Dia ingin membantah, ingin berteriak bahwa gudang penyimpanan itu memang neraka, dan tanpa pendingin yang layak, lem kualitas terbaik sekalipun pasti akan menyerah. Namun, di hadapan pemilik modal, penjelasan teknis hanyalah terdengar sebagai kambing hitam dari seorang pecundang.

Azhari menelan harga dirinya bulat-bulat, membiarkan rasa pahit itu mengalir membakar kerongkongan. “Siap, Pak. Maaf,” ucapnya kaku, suaranya terdengar datar dan mekanis. “Saya pastikan rework selesai hari ini.”

Layyah tidak menjawab, hanya mengibaskan tangannya pelan tanpa menoleh, sebuah isyarat pengusiran yang merendahkan. Azhari berbalik badan, melangkah keluar dengan dada sesak, meninggalkan ruangan dingin itu menuju panasnya lantai produksi yang menunggunya untuk dilampiaskan.

Lihat selengkapnya