Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #31

Bab 29

Maghrib berkumandang di mana-mana, tetapi gemanya tenggelam oleh lautan hujan yang turun amat deras. Angin menyerbu secepat kilat, membuat daun-daun terlepas genggamannya dari ranting. Di tengah amuk cuaca, sebuah motor berhenti kasar di depan pagar, sedang mesinnya terdengar seperti geraman hewan buas yang terluka. Azhari turun dengan gerakan menyentak, membiarkan ujung jas hujan ponconya berkibar berat dihantam angin. Dia membuka dan membanting pagar besi itu hingga beradu nyaring dengan tembok, tidak peduli pada air keruh yang menciprat ke celana bahannya yang tidak tertutup jas hujan, seolah alam semesta sedang bersekongkol untuk merusak sisa harinya yang sudah hancur lebur.

Di ruang tengah, gedoran pintu yang terdengar tidak sabaran itu membuat jantung Suhunia mencelos. Dia bangkit segera, mengabaikan nyeri yang menjalar dari tumit kanannya demi membukakan pintu secepat mungkin bagi suaminya. Begitu kunci diputar, angin kencang bercampur air langsung menyerbu masuk, membawa serta sosok Azhari yang berdiri kaku dalam balutan jas hujan ponco. Air menetes deras dari ujung-ujung plastik itu membasahi lantai, sementara wajahnya basah dan sekeruh air comberan.

Belum sempat Suhunia menyalami tangan suaminya, bibirnya refleks bertanya, "Pakunya dapat, Bi?"

Pertanyaan itu seketika menjadi pemantik api.

Azhari menarik jas hujan itu melewati kepalanya dengan kasar, lalu membanting gumpalan plastik basah itu ke lantai. "Hujan badai begini kamu tanya paku?! Toko tutup!" bentaknya dengan mata nyalang menatap istrinya. "Kamu pikir saya ini robot yang bisa mengatur cuaca, Suhunia? Minggir! Saya mau mandi."

Suhunia tersentak, tangannya refleks terulur hendak menahan lengan suaminya untuk memberi tahu bahwa kamar mandi sedang dipakai, tetapi langkah Azhari terlalu cepat dan lebar. Dengan kaki yang berdenyut nyeri, Suhunia mencoba mengejar, menyeret langkahnya yang pincang dalam kepanikan bisu. "Bi, tunggu—"

 Terlambat. Tangan Azhari sudah lebih dulu menyambar gagang pintu kamar mandi dan memutarnya kasar. Pintu itu terkunci. Hentakan keras dari gagang yang tertahan itu membuat Azhari mematung sejenak, napasnya memburu, seolah pintu itu baru saja menantang kekuasaan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, orang yang berada di dalamnya panik. Di balik pintu tersebut, Hilal terlonjak, jantungnya seakan berhenti berdetak detik itu juga. Suara gagang pintu yang diputar paksa terdengar seperti ancaman pembunuhan di telinganya. Dengan tangan gemetar hebat yang licin oleh sabun, dia buru-buru memutar keran hingga mati, membiarkan keheningan mencekam menggantikan suara gemericik air. Matanya membelalak menatap daun pintu yang bergetar, membayangkan sosok monster yang berdiri di baliknya, sementara otaknya berteriak menyuruhnya untuk segera membungkus tubuh, sebelum gedoran itu berubah menjadi dobrakan.

"HILAL!" Teriakan Azhari meledak bersamaan dengan satu hantaman keras tinjunya ke papan pintu, membuat engsel pintu berderit. "Buka! Kenapa jam segini baru mandi?!" Napasnya terdengar kasar dan memburu, setiap katanya penuh tuduhan yang menyudutkan. "Maghrib baru masuk kamar mandi?! Ke mana saja kamu dari pulang sekolah tadi? Tidur? Malas-malasan kamu mentang-mentang Abi tidak ada di rumah?!"

Lihat selengkapnya