Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #32

Bab 30

Di dalam rumah yang kini terasa lebih lapang, atau tepatnya lebih sepi tanpa kehadiran anaknya, Azhari membersihkan diri. Guyuran air dingin di kamar mandi seolah melunturkan debu pabrik, keringat jalanan, dan sisa-sisa amarah fisik yang tadi meledak. Dia keluar dengan tubuh segar, lalu berganti rupa menjadi sosok yang tampak begitu saleh: baju koko putih bersih yang licin, sarung tenun yang rapi, dan peci hitam yang bertengger sempurna di kepala.

Di kamarnya, dia menggelar sajadah. Dengan khusyuk, dia mengangkat tangan dan bertakbir, melafalkan ayat-ayat suci dengan fasih, seolah-olah tangan yang kini bersedekap di dada itu bukanlah tangan yang baru saja mendaratkan tamparan di wajah istrinya atau mengusir darah dagingnya ke tengah badai. Bagi Azhari, dia imam yang sedang menegakkan tiang agama, tidak peduli jika fondasi rumah tangganya sendiri sedang retak seribu.

Sementara itu, di dapur yang remang, Suhunia bergerak menyeret langkahnya seperti seorang tawanan perang yang melayani jenderalnya. Pipinya yang memar berdenyut panas, bersahutan dengan nyeri di tumit kakinya, tetapi air matanya tidak berani dia teteskan. Tangannya gemetar saat menyendokkan nasi hangat ke piring, lalu menuangkan sayur sop yang asapnya mengepul tipis. Dia tahu sop itu hambar, garamnya ditakar seminimal mungkin sesuai titah suaminya, tetapi malam ini, ketakutan membisikkan bahwa hambar saja tidak akan cukup untuk menyelamatkannya.

Selesai salam, Azhari melipat sajadahnya dengan gerakan tenang dan presisi. Dia berjalan menuju meja makan, menarik kursi utamanya dengan bunyi derit kayu yang memecah kesunyian, lalu duduk layaknya seorang raja yang menanti upeti.

Suhunia meletakkan piring itu di hadapan suaminya dengan hati-hati, berusaha agar denting piring dan sendok tidak terdengar sedikit pun. Setelah itu, dia duduk di kursi seberang, menundukkan kepala dalam-dalam, menatap kosong pada serat-serat taplak meja plastik yang mulai mengelupas.

Di luar, hujan masih mengamuk, tetapi di meja makan itu, keheningan jauh lebih memekakkan telinga.

Azhari mengangkat sendok, menyuap kuah sop bening itu ke mulutnya. Suhunia menahan napas, jemarinya meremas ujung gamis di bawah meja.

Satu detik. Dua detik.

Gerakan mulut Azhari berhenti. Dia tidak menelan, hanya diam merasakan cairan itu menggenang di lidahnya. Perlahan, dia menurunkan sendoknya kembali ke piring. Bunyi logam yang beradu dengan mangkuk sop terdengar nyaring dan menyakitkan.

“Ini apa?” tanya Azhari. Suaranya tidak tinggi, bahkan cenderung datar dan tenang, tetapi dinginnya melebihi air hujan di luar sana.

Suhunia memberanikan diri mengangkat wajah sedikit, meski matanya tetap enggan menatap langsung. “I-itu sayur sop, Bi.”

“Saya tahu ini sop. Saya tidak buta,” potong Azhari tajam. Dia menunjuk mangkuk itu dengan dagunya. “Tapi lidah saya tidak menemukan rasa apa pun di sini. Rasanya seperti air bekas cucian beras. Hambar. Kosong.”

“Garamnya ... garamnya sudah saya takar seperti biasa, Bi,” cicit Suhunia membela diri, suaranya hampir hilang tertelan rasa takut.

Azhari mendengus, senyum sinis tipis terukir di sudut bibirnya. “Seperti biasa? Jadi menurutmu, standar pelayananmu memang serendah ini? Saya banting tulang di luar, dimaki atasan, kehujanan, berhadapan dengan macet, demi apa? Demi beli beras dan sayur ini. Lalu sesampainya di rumah, balasannya cuma air tawar begini?”

Azhari mendorong piring itu menjauh, seolah jijik melihatnya. “Kamu seharian di rumah, Nia. Cuma memasak saja tidak becus. Anak tidak terurus sampai keluyuran, suami pulang dikasih makan air kobokan. Apa sih yang ada di otakmu itu? Apa karena kakimu sakit sedikit, lantas otakmu ikut lumpuh tidak bisa mikir mana rasa yang layak buat manusia?”

Sebenarnya, takaran garam itu tidak berubah. Suhunia memasak dengan resep ketat yang sama selama bertahun-tahun, persis seperti titah suaminya yang anti dengan pemborosan. Namun, malam ini, lidah Azhari sedang diselimuti rasa pahit kegagalan. Bayangan wajah Layyah yang merendahkannya di pabrik, tatapan para buruh yang seolah menertawakan posisinya, hingga dinginnya hujan yang menembus tulang, semuanya bergumpal menjadi bola api di dadanya yang mencari jalan keluar. Dia butuh sesuatu untuk disalahkan. Dia butuh validasi bahwa dia masih berkuasa. Maka di matanya yang keruh saat ini, sop bening itu bukan lagi terlihat sebagai menu sehat, melainkan simbol dari hidupnya yang menyedihkan: tawar, tidak berharga, dan dilayani setengah hati. Segala hal yang dilihatnya malam ini tampak salah, cacat, dan menantang emosinya.

Suhunia hanya bisa menunduk semakin dalam, bibirnya terkatup rapat menahan gemetar. Dia tahu, membela diri saat ini sama saja dengan menyiram bensin ke api yang sedang berkobar. Namun, belum sempat suaminya melanjutkan caci makinya, suara gaduh tiba-tiba terdengar, bukan dari meja makan, melainkan dari arah kamar utama.

Lihat selengkapnya