Salat Isya itu berakhir dengan salam yang menggigil. Hilal menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengusap wajahnya yang basah, tetapi bukan oleh air wudu yang menyegarkan, melainkan keringat dingin yang kini terasa lengket di kulit. Di dalam musala kecil bercat hijau pupus itu, lampu neon panjang di tengah ruangan berkedip-kedip sesaat, seolah enggan menerangi kesedihan di bawahnya, sebelum akhirnya kembali menyala konstan.
Tidak ada barisan saf yang rapat seperti yang diagungkan dalam ceramah-ceramah Jumat. Tidak ada gemuruh aamiin yang menggetarkan dada. Di saf depan, terpisah tiga meter dari Hilal, hanya ada satu punggung bungkuk: seorang kakek tua, marbot musala yang baru datang tergopoh-gopoh sebelum waktu Isya tadi, yang sesekali batuk rejan di sela zikirnya. Hanya mereka berdua makmum yang tersisa, terjebak di pulau kering di tengah badai ini. Sisanya? Kosong. Karpet sajadah merah beraroma apek yang membentang luas itu tampak seperti lautan sunyi yang mengejek kesendirian Hilal.
Hilal mengangkat kedua tangannya sebatas dada, mencoba berdoa. Namun, bibirnya terkunci rapat.
Biasanya, doa adalah jembatan pengaduan paling intim antara hamba dan Sang Pencipta. Namun, malam ini, otak Hilal terlalu bising untuk merangkai kalimat suci. Bayangan ibunya yang ditampar terus berputar ulang di kepalanya seperti kaset rusak yang memuakkan. Suara tamparan itu … menyakitkan. Hilal tidak sanggup untuk melihat hal seperti itu. Dirinya boleh dihukum, tetapi ibunya … dia tidak rela.
Ya Allah …, batinnya menjerit, tetapi kelanjutannya macet di tenggorokan.
Apa yang harus dia minta? Keselamatan ibunya? Kesadaran untuk ayahnya? Atau keberanian untuk dirinya sendiri yang tadi lari terbirit-birit meninggalkan ibunya sendirian? Rasa bersalah itu menusuk dadanya lebih tajam daripada dinginnya angin malam. Dia merasa menjadi pengecut paling hina. Anak macam apa yang lari menyelamatkan diri saat ibunya dipukuli? Namun, hanya segera pergi ke musala caranya agar ibunya tidak kembali ditampar karena membelanya.
“Jang, saya duluan, ya.”
Tepukan pelan di bahu membuyarkan lamunan kelam itu. Hilal tersentak hebat, bahunya melonjak seolah baru saja disengat listrik. Dia menoleh cepat, mendapati kakek itu sudah berdiri menjulang di sampingnya sambil membetulkan letak pecinya yang miring. Wajahnya keriput, teduh, tetapi matanya yang rabun menatap cemas ke arah pintu keluar yang gelap.
“Eh … iya, Kek,” gagap Hilal, buru-buru menyeka sudut matanya yang berair. Dia melirik ke luar, tempat air hujan masih turun seperti air terjun. “Tapi … masih hujan deras banget, Kek. Kakek gak tunggu reda dulu? Bahaya di jalan.”
Si kakek terkekeh pelan, suara tawanya serak beradu dengan batuk kecil. “Kalau nunggu reda, kasihan orang rumah. Istri saya takut suara petir. Tugas saya sama Gusti Allah sudah selesai buat Isya ini, sekarang giliran tugas saya nemenin istri supaya gemetaran sendirian di kamar.”
Kalimat sederhana itu menghantam dada Hilal lebih keras daripada pukulan bapaknya tadi.
“Kamu juga lebih baik pulang, Jang. Takutnya hujannya makin awet. Nanti kalau keluar, tolong pintu ditarik saja, ya. Gak usah ditutup rapat, biar yang mau berteduh bisa masuk,” pesan kakek itu singkat.
Tanpa menunggu jawaban, tangan keriputnya merogoh saku, mengeluarkan sebuah kantong kresek hitam bekas. Dengan cekatan, dia menaruh kresek itu di atas kepalanya sebagai pelindung darurat.