Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #34

Bab 32

Darah Hilal mendidih, naik cepat ke ubun-ubun hingga telinganya berdenging menyakitkan. Di depannya, wanita yang paling dia muliakan sedang menggelepar seperti ikan yang ditarik paksa ke daratan, mulutnya disumpal gumpalan kertas basah yang kotor, rambutnya berantakan dalam genangan air. Suara batuk tertahan dari kerongkongan Suhunia terdengar seperti lonceng kematian yang membangunkan sisi gelap dalam diri Hilal. Detik itu juga, rasa takutnya pada sosok ayahnya selama ini runtuh, berganti menjadi nyala api kemarahan yang membakar habis akal sehatnya.

Tanpa teriakan, tanpa peringatan, tubuh kurus itu melesat membelah udara kamar yang pengap. Kakinya menerjang masuk, mengabaikan serpihan plafon dan air keruh yang diinjak kaki telanjangnya. Dengan tenaga yang dipacu adrenalin, Hilal menghantamkan bahunya sekuat tenaga ke sisi tubuh Azhari yang sedang berjongkok. Lantai yang licin oleh lumpur atap menjadi sekutu tidak terduga, membuat pertahanan Azhari goyah seketika dan terpelanting kasar menjauh dari tubuh ringkih ibunya.

Azhari menghantam pintu lemari dengan bunyi gedebuk yang memuaskan. Tulang punggungnya berdenyut nyeri akibat benturan itu, tetapi rasa sakit fisiknya tidak sebanding dengan guncangan hebat di akal sehatnya. Matanya membelalak lebar, menatap tajam pada sosok anak laki-lakinya yang berdiri terengah-engah dengan tatapan nyalang.

"Hilal?" desisnya tidak percaya, suaranya bergetar menahan murka. "Kamu … kamu barusan mendorong abimu?!"

Dunia rasanya terbalik bagi Azhari. Bukankah seharusnya Hilal berdiri di sampingnya, ikut meludahi wanita kotor yang telah menjijikkan nama keluarga mereka? Kenapa anak itu justru menyerang "tangan Tuhan" yang sedang berusaha membersihkan noda zina di rumah ini?

"IBUMU INI PELACUR, HILAL!" bentak Azhari kemudian, telunjuknya gemetar menuding wajah anaknya. "Kamu pikir Abi menyiksa dia tanpa alasan? Buka matamu!"

Azhari bergerak kasar, kakinya menendang buku hitam basah yang tergeletak pasrah di antara pecahan gipsum hingga tergeser ke dekat kaki Hilal.

"Lihat itu! Baca judulnya!" perintah Azhari berapi-api. "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Kamu pikir wanita saleha mana yang menyimpan buku laknat seperti itu di rumah ini? Itu bukan sekadar bacaan, Hilal! Itu doa busuk ibumu yang ingin menjajakan dirinya!"

Belum sempat Hilal mencerna tuduhan gila itu, Azhari kembali menunjuk gumpalan uang basah yang berserakan bercampur lumpur.

"Dan uang becek itu? Kamu pikir dari mana asalnya?!" Napas Azhari memburu, matanya nyalang penuh keyakinan yang sesat. "Itu upah dosanya! Dia kumpulkan uang haram itu dari laki-laki hidung belang di luar sana saat Abi banting tulang kerja!"

Tangan Azhari kemudian menyambar strip obat yang terselip di sela reruntuhan, lalu melemparkannya tepat ke dada Hilal. "Dan ini buktinya!" teriaknya memuncak. "Pil pencegah hamil! Untuk apa wanita bersuami minum ini sembunyi-sembunyi kalau bukan untuk membebaskan dirinya berzina dengan jantan lain tanpa takut bunting?!"

Azhari menatap anaknya dengan sorot mata yang menuntut pembenaran, seolah dia baru saja membeberkan fakta persidangan yang tak terbantahkan. "Dia ini kotor, Hilal! Dia najis! Dan kamu ... kamu malah mendorong Abi demi melindungi ibumu yang seorang lonte ini?"

"Demi Allah, Abi salah!" jerit Hilal, suaranya parau membelah tuduhan keji itu. Dadanya naik turun menahan isak yang menyakitkan. Dia tidak peduli lagi pada sopan santun, kehormatan ibunya jauh lebih berharga daripada tata krama di hadapan ayahnya yang sudah kehilangan akal. Hilal menunjuk buku hitam yang tergeletak di lantai dengan tangan gemetar. "Buku itu ... itu punya Hilal! Hilal yang beli! Itu novel sastra, bukan panduan melacur seperti isi otak Abi!"

"Dan uang itu ...." Hilal menelan ludahnya yang terasa pahit, matanya beralih pada lembaran uang basah yang bercampur lumpur. "Abi tuduh Umi jual diri? Demi Allah, Bi, itu uang jahit Umi! Umi kumpulin itu sambil masak, sambil kerjain hal lain, jari Umi bahkan berdarah kena jarum demi nabung buat makan kita kalau Abi gak kasih uang bulanan yang layak! Umi berjuang mati-matian jaga kehormatan rumah ini, tapi Abi malah injak-injak harga dirinya!"

Azhari menggeram. Dia berdiri dengan tangan mengepal. “Dua juta untuk satu bulan, tidak layak menurutmu?”

“GAK!" teriak Hilal, suaranya pecah saking tingginya. Dia tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan rasa frustrasi yang sudah dia pendam bertahun-tahun. "Abi pikir kita hidup di mana? Di hutan? Dua juta itu cuma remah-remah untuk hidup di Jakarta, Bi! Abi ke mana saja selama ini?!"

Hilal melangkah maju satu langkah, menantang tatapan ayahnya dengan mata yang basah oleh amarah. "Abi tahu Hilal jajan berapa? Lima ribu! Cuma lima ribu, Bi! Di saat teman-teman Hilal bisa bawa 50 ribu, Hilal harus nahan buat gak jajan setiap hari di sekolah! Hilal irit-irit supaya gak nyusahin Umi yang Abi anggap rendah itu!"

Lihat selengkapnya