Di kamar Kavian yang sejuk dan beraroma diffuser lavender, hujan deras di luar sana hanyalah ornamen visual. Kaca jendela yang tebal dan kedap suara meredam amukan badai menjadi dengungan lembut yang menenangkan. Kavian sedang duduk di tepi ranjang, matanya menatap layar ponsel yang menyala menampilkan nama kontak temannya.
Jempolnya baru saja menggeser tombol hijau ketika suara itu meledak, mengoyak ketenangan kamarnya.
"KAV! TOLONG!"
Jeritan Hilal terdengar begitu dekat, begitu putus asa, hingga Kavian nyaris menjatuhkan ponselnya. Suara itu pecah, serak, seolah tenggorokan sahabatnya sedang dicengkeram sesuatu.
“TOLONG AKU DAN UMI—”
Bunyi kayu patah yang mengerikan terdengar menyusul, diikuti suara hantaman keras benda tumpul. Lalu, hening. Tidak ada lagi suara Hilal. Hanya ada suara petir menggelegar, yang juga terdengar di rumahnya.
Detik itu juga, waktu di kamar Kavian membeku.
Suara dengungan pendingin udara mendadak terdengar seperti mesin jet di telinganya. Butiran air hujan yang menempel di kaca jendela tampak berhenti bergerak, menggantung di udara. Jantung Kavian berhenti berdetak selama satu detik yang menyakitkan, sebelum kemudian memompa darah dengan kecepatan yang membuat kepalanya pening.
Di seberang telepon, tidak ada jawaban. Satu detik kemudian, terdengar suara lain yang membuat bulu kuduk Kavian meremang: Suara cipratan air. Kecipak. Kecipak. Langkah kaki berat di atas genangan air.
"Lal ...?" panggil Kavian, suaranya tercekat.
Dunia melambat. Kavian merasa tubuhnya seringan kapas, tetapi seberat timah di saat bersamaan. Dia melompat dari kasur, membuka pintu kamar, dan berlari menuju ruang tengah.
Lantai keramik yang dingin terasa aneh di telapak kakinya yang telanjang. Jarak antara kamarnya dan ruang tengah sebenarnya hanya beberapa langkah, tetapi malam ini, jarak pendek itu terasa memanjang tidak berujung. Kavian berlari sekuat tenaga, tetapi di kepalanya, dia bergerak dalam gerakan lambat, seolah sedang menembus air yang pekat.
Di ruang tengah, lampu menyala hangat. Televisi menampilkan acara komedi dan sedang ditonton kedua orang tuanya. Suara tawa penonton dari televisi terdengar bass dan lambat di telinga Kavian, seperti rekaman kaset rusak yang diputar dengan kecepatan rendah.
Di sana, Darsa dan Yuli sedang duduk santai di karpet, menikmati sisa malam mereka. Yuli sedang melipat beberapa pakaian yang baru diangkat dari jemuran, gerakannya terlihat sangat lambat. Darsa tertawa kecil melihat lelucon di layar, bahunya berguncang naik-turun dalam irama yang lambatnya menyiksa. Pria yang sangat menyayangi mobil tuanya itu tampak begitu damai, begitu aman, hidup dalam gelembung realitas yang tidak tersentuh oleh siksa dan tangisan berdarah.
"PA! MA!" teriak Kavian. Suaranya sendiri terdengar asing, bergema seperti teriakan di dalam gua yang kosong.
Darsa menoleh. Gerakan kepalanya lambat. Senyum jenaka di wajahnya belum sepenuhnya hilang saat matanya menangkap wajah putranya yang pucat pasi dan rambut berantakan. Sementara Yuli, tangannya berhenti melipat baju, menggantung di udara.
Kavian nyaris tersandung kakinya sendiri saat mencapai ruang tengah. Tangannya yang gemetar mengacungkan ponsel ke udara, lalu menekan tombol loudspeaker.
"DENGAR!" jerit Kavian parau.
Dia meletakkan ponsel itu di atas meja kecil di depan TV.