Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #36

Bab 34

“STOP DI SINI, PA! INI RUMAHNYA!”

Mobil Darsa berhenti mendadak dengan posisi miring, bannya memekik di aspal basah tepat di depan pagar rumah nomor 101. Lampu sorot mobil itu dibiarkan menyala, menembus tirai hujan dan membanjiri pagar serta halaman depan rumah itu dengan cahaya putih yang menyilaukan.

Tanpa mematikan mesin, Darsa melompat keluar. Hujan deras langsung menghantam tubuhnya, membasahi pakaian yang dia pakai.

"Ayo!" teriak Darsa, suaranya kalah oleh deru hujan.

Kavian dan Yuli menyusul di belakang. Kavian sedikit membungkuk, melindungi dekapan selimut di dadanya agar tetap kering, sedang Yuli berlari kecil mengikuti di belakang dengan rambut yang kuyup.

Di bawah sorot lampu mobil yang terang, Darsa mencapai pagar besi. Tangannya dengan mudah menemukan slot besi. Tidak dikunci. Dengan sentakan kasar, Darsa mendorong pagar itu hingga terbuka lebar.

Mereka bertiga berlari melintasi halaman kecil yang becek, bayangan mereka memanjang di dinding rumah akibat sorot lampu mobil dari belakang.

Sampai di teras, Darsa tidak membuang waktu untuk mengetuk sopan. Dia memutar gagang pintu utama. Tidak terkunci.

Dengan tenaga penuh akibat adrenalin, Darsa menghentakkan pintu itu hingga terbuka lebar. Pintu kayu itu menghantam dinding dalam dengan bunyi bedebam yang keras. Namun, begitu pintu terbuka, cahaya lampu mobil dari belakang mereka tidak mampu menembus kegelapan pekat di bagian dalam rumah. Justru, yang menyambut mereka adalah aroma busuk yang meninju indra penciuman.

"Bau apa ini?" Yuli spontan menutup hidungnya dengan lengan baju.

Bau itu begitu pekat dan menjijikkan.

"Senter, Yan!" perintah Darsa cepat.

Kavian, dengan tangan gemetar, menyalakan senter dari ponselnya, mendampingi ponsel Darsa yang juga menyala. Cahaya putih segera membelah kegelapan ruang tamu. Namun, pemandangan yang terlihat pertama kali membuat perut Kavian mual.

Lantai ruang tamu itu sudah tidak terlihat, tertutup genangan air keruh. Di atas permukaan air yang hitam itu, mengambang kotoran kucing yang sudah hancur dan menyebar ke mana-mana, menciptakan pola-pola menjijikkan di permukaan air.

Ini bukan rumah. Ini kandang binatang yang ditinggalkan.

"HILAL!" teriak Kavian, suaranya memantul di dinding-dinding lembap. Dia mengabaikan rasa jijik, kakinya melangkah masuk, mencipratkan air limbah itu ke celananya.

"DI MANA KALIAN?!" Darsa ikut berteriak, suaranya berat dan mengintimidasi. Dia ikut menyalakan senter ponselnya, menyorot ke sekeliling ruangan yang kacau balau itu.

Tidak ada jawaban verbal. Hanya suara napas berat dan geraman rendah yang terdengar dari arah lorong menuju kamar.

Cahaya senter Darsa dan Kavian bergerak serentak ke arah sumber suara. Sinar itu jatuh pada sebuah pintu kamar yang sudah hancur engselnya, miring tergantung menyedihkan.

Lihat selengkapnya