Aku selalu percaya bahwa janji-Mu pasti sampai, Ya Allah.
Meski harus kuhabiskan separuh nyawaku dalam ketakutan, aku tahu Engkau tidak pernah tidur.
Malam ini, Engkau kirimkan kehancuran ini bukan untuk membunuhku, melainkan untuk membebaskanku.
Terima kasih telah datang tepat pada waktunya, Ya Allah.
Petir berkilat-kilat. Suaranya menggelegar sampai relung diri seorang perempuan yang bersandar di dinding kamar. Dari atas plafon yang bolong, air hujan terus mengalir tanpa henti, seolah langit sedang menumpahkan tangisnya tepat di kamar utama itu.
Air di lantai kamar makin banyak, menggenang keruh bercampur patahan dan debu-debu gipsum serta kotoran atap. Baju Suhunia sudah basah kuyup, melekat dingin di kulitnya yang menggigil, tetapi rasa dingin itu kalah oleh rasa mati rasa di sekujur tubuhnya.
Sementara itu, di ambang pintu yang menganga, Azhari sedang bertengkar hebat dengan Darsa. Teriakan mereka timbul tenggelam di antara gemuruh hujan. Suhunia melihat bayangan suaminya yang berusaha melawan, tetapi tenaga Darsa lebih besar malam itu. Dengan satu dorongan kuat, Darsa berhasil membuat Azhari terbanting ke luar pintu, tergelincir di lantai licin tepat ketika cahaya lampu rotator polisi mulai memantul di dinding rumah.
Semuanya terasa antara sadar dan tidak sadar bagi Suhunia. Kupingnya samar-samar mendengar keributan itu, kadang jelas, kadang hilang ditelan denging panjang di kepalanya. Dia rasanya mau pingsan, ingin membiarkan gelap mengambil alih kesadarannya agar sakit di kakinya dan ngilu sekujur tubuhnya hilang.
Namun, dia tidak pingsan. Dia masih ingat anaknya, Hilal, tidak tahu di mana.
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, dia berusaha bangun. Tangannya menekan lantai yang becek, mencoba menopang berat tubuhnya. Lututnya gemetar hebat. Baru setengah berdiri, kakinya yang masih belum sembuh karena tertusuk beling kembali berdenyut nyeri luar biasa. Pertahanannya runtuh. Dia tidak kuat dan jatuh duduk lagi dengan kasar di atas genangan air.
Napasnya tersengal. Saat itulah matanya menangkap benda-benda yang berserakan di sekitarnya.
Dia melihat buku bersampul hitam yang basah kuyup. Tulisan di sampulnya terlihat jelas: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur.
Pemandangan itu membuat dia menangis kembali. Air matanya tumpah ruah, menyatu dengan air hujan di pipinya yang lebam. Belum lagi ketika matanya beralih ke samping buku itu. Dia melihat uang-uang kertas hasil jahitannya yang sudah basah, hancur, dan tidak berharga lagi. Di sebelahnya, tergeletak strip pil KB miliknya yang menjadi saksi bisu ketakutannya selama ini.
Semua rahasianya, semua pertahanannya, kini hancur lebur di lantai yang kotor. Malam ini menjadi titik terendah seorang Suhunia Syaidah. Seorang perempuan yang dipaksa menikah muda tepat setelah lulus Madrasah Aliyah oleh almarhum kedua orang tuanya. Di bawah asuhan orang tua yang memegang teguh adat usang, Suhunia tumbuh tanpa pernah memiliki suaranya sendiri. Baginya, hidup hanyalah perpindahan tangan dari tunduk pada titah Ayah, menjadi hamba bagi perintah suami. Dia diajarkan bahwa diam itu emas, dan pasrah sebagai satu-satunya jalan bagi perempuan untuk mencium bau surga, meskipun itu berarti dia harus kehilangan dirinya sendiri.
Lamunan kepedihan itu pecah seketika oleh suara sirine yang meraung-raung, membelah gemuruh hujan di luar sana. Cahaya merah dan biru berputar liar, memantul di dinding-dinding rumah yang basah, menciptakan atmosfer mencekam yang asing.
"Amankan! Jangan sampai lepas!"
Teriakan tegas dari arah pintu depan menyentak kesadaran Suhunia. Samar-samar, dia melihat sosok suaminya, Azhari, yang baru saja bangkit dengan sempoyongan, kini diringkus paksa oleh dua orang berseragam polisi. Pria yang selama ini bagaikan raja tidak tersentuh di istana kecilnya itu, kini tidak berdaya, tangannya ditekuk ke belakang, wajahnya ditekan ke dinding teras yang kasar.
Namun, bukan itu yang dicari mata Suhunia.