Selasa pagi kembali menyapa SMA. Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah-celah ventilasi kelas yang tinggi, menyorot partikel debu yang menari-nari di udara, persis seperti pagi-pagi sebelumnya. Keriuhan siswa yang baru datang memenuhi lorong dan sudut kelas, suara tawa dan gesekan kursi terdengar nyaring, tetapi bagi Kavian yang duduk di barisan paling belakang, kebisingan itu terasa jauh. Dunianya menyusut menjadi sebuah keheningan yang berpusat pada satu titik di sebelahnya: Sebuah kursi kayu kosong yang terasa dingin.
“Abyan Geyadha!”
“Bulan Mirdad Safitri!”
“Muhammad Tama Putra!”
Mata pelajaran pertama dimulai. Hayat berdiri di depan kelas dengan buku presensi terbuka, memanggil nama murid satu per satu, menciptakan ritme absen yang familiar. Namun, ritme itu tersandung sesaat ketika telunjuknya menyentuh urutan huruf H.
Tidak ada suara lantang yang memanggil nama lengkap teman semeja Kavian. Hanya ada jeda.
Di momen sunyi yang menggantung itu, kepala Hayat terangkat, matanya mencari ke sudut belakang dan langsung terkunci dengan tatapan Kavian. Ada duka samar yang terlintas di balik mata guru sejarah itu, sebuah pemahaman bisu yang menyesakkan. Tanpa kata, Hayat kembali menunduk dan segera memanggil nama berikutnya, membiarkan absen itu terlewat begitu saja.
Bel istirahat berbunyi panjang, memecah sisa-sisa ketegangan pelajaran dan menggantinya dengan keriuhan langkah kaki yang bergegas keluar kelas. Tama dan Abyan menyempatkan diri mampir ke meja paling belakang, menumpukan tangan di tepian meja Kavian.
"Kantin, Yan? Beli bakso ikan, yuk! Perut gue udah demo," tawar Tama dengan nada ringan yang khas. Namun, Kavian hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan seraya menarik keluar sebuah kotak bekal berwarna merah menyala dari dalam tas ranselnya.