Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #39

Bab 37

Dua minggu lagi berlalu. Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah gorden ruang tengah, menciptakan garis-garis keemasan di atas karpet beludru tempat Kavian biasa bersantai. Suasana rumah begitu hening. Bukan hening yang mencekam, melainkan keheningan yang nyaman, beraroma diffuser lavender dan sisa wangi masakan ibunya.

Kavian duduk bersila di sofa, mengenakan kaus polos berwarna navy. Di depannya, di atas meja, sebuah ponsel ditegakkan dengan bantuan tumpukan buku-buku pelajaran miliknya.

Dia menarik napas panjang, merapikan sedikit rambutnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan.

Tombol merah di layar disentuh.

"Satu, dua, tiga. Tes suara. Masuk, ya."

Kavian memundurkan punggungnya, bersandar santai pada bantalan sofa. Dia tersenyum ke arah lensa kamera, senyum khasnya yang ramah, topeng terbaiknya untuk bertahan hidup.

"Halo, semuanya. Saya Kavian Prasetya Darsa. Ini adalah tugas autobiografi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu Bu Tias."

Kavian berdeham pelan, matanya sedikit menerawang, mengingat skrip yang sudah dia susun di kepala sejak beberapa saat lalu.

"Kalau ditanya asal saya dari mana, jawabannya agak rumit. Saya lahir di Surabaya, 18 Maret 2004, tapi kalau ditanya saya orang mana ... saya lebih suka jawab: Saya warga jalan tol." Dia terkekeh kecil mendengar leluconnya sendiri, meski tawanya tidak sampai ke mata. Ada kelelahan yang tersembunyi di sana.

"Pekerjaan Papa menuntut kami pindah setiap beberapa tahun sekali. SD saya habiskan di tiga kota berbeda. Kelas satu sampai dua di Surabaya, kelas tiga sampai lima di Makassar, kelas enam di Bandung. Di Bandung, saya juga bertahan di sana sampai kelas dua SMP, kemudian saya habiskan kelas tiganya, bahkan sampai kelas satu SMA di Semarang.”

Kavian menghela napas lagi.

“Jujur, hidup pindah-pindah itu ... melelahkan. Dulu, saya benci sekali. Setiap kali saya mulai hafal jalan tikus ke sekolah, setiap kali saya mulai punya teman akrab untuk main game bareng, Papa akan bilang kami harus berkemas lagi. Kardus-kardus ditutup, truk pindahan datang, dan saya harus kembali menjadi 'si anak baru' yang asing.”

Kavian mengubah posisi duduknya sedikit, jarinya tanpa sadar mengetuk-ngetuk lutut, gestur gelisah yang tidak tertangkap kamera karena terpotong frame.

“Tapi, keadaan itu memaksa saya belajar beradaptasi. Saya belajar menjadi seperti bunglon. Saya belajar membaca situasi dengan cepat, belajar tersenyum ramah agar diterima, dan belajar untuk tidak terlalu terikat pada tempat. Prinsip saya dulu sederhana: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya aman, punya banyak teman, tapi saya tidak pernah benar-benar merasa memiliki. Bagi saya, sekolah dan kota hanyalah tempat singgah. Teman-teman yang saya temui hanyalah ... teman sementara.”

Hening sejenak.

Di dalam kepalanya, memori-memori kelam berputar tanpa izin. Bayangan hujan deras, pintu yang didobrak, dan bau anyir darah kembali menyeruak.

Kavian menelan ludah yang terasa pahit, lalu kembali menatap lensa kamera. Kali ini, senyum “anak baru yang asik”-nya sedikit memudar, digantikan tatapan yang jauh lebih dewasa.

“Karena sering berpindah, definisi ‘rumah' bagi saya bukan lagi tentang bangunan fisik. Rumah itu bukan tembok, bukan atap, bukan alamat di KTP. Bagi saya, rumah adalah manusia. Rumah saya adalah Papa dan Mama. Di mana pun mereka ditugaskan, di situlah rumah saya. Selama ada mereka, selama ada meja makan tempat kami berdiskusi, saya merasa aman.”

Lihat selengkapnya