Sirr

Ahmad Muamar Z.
Chapter #40

Epilog

Beberapa waktu yang panjang kemudian setelah “kiamat”.

Tembok beton tinggi yang bermahkotakan gulungan kawat berduri itu berdiri angkuh membelah langit. Di baliknya, tidak ada kebebasan yang diizinkan lewat. Jika melangkah masuk melewati gerbang besi berlapis yang dijaga ketat, teriknya matahari di luar perlahan tergantikan oleh udara yang dingin dan pengap. Lorong-lorong panjang yang memantulkan gema langkah kaki dan berbau karbol murahan pada akhirnya bermuara di sebuah ruangan berisik yang disekat oleh jajaran kaca tebal. Di salah satu bilik ruang besuk itulah Suhunia duduk dalam diam.

Suhunia menatap lurus ke arah sekat kaca yang penuh goresan di hadapannya. Punggungnya tegak lurus, tidak lagi membungkuk seperti perempuan yang memikul beban ketakutan sepanjang waktu. Luka robek di kakinya sudah sembuh dan tertutup rapi oleh sepasang sepatu datar, sementara lebam di wajahnya telah lama menghilang tanpa sisa, memancarkan aura ketenangan yang belum pernah dia miliki. Kesunyiannya yang utuh itu baru terusik ketika derit engsel pintu besi dari seberang ruangan terbuka dengan kasar. Dari balik bayang-bayang lorong sel, seorang sipir menggiring sosok Azhari masuk. Pria yang selama ini memosisikan dirinya sebagai penguasa mutlak di bawah atap rumahnya itu kini tampak begitu menyusut, terbalut seragam tahanan berwarna oranye pudar dengan bahu melorot, wajah kusam, dan rambut yang dicukur asal-asalan.

Azhari menjatuhkan tubuhnya ke kursi besi di seberang kaca pembatas, terlihat begitu ringkih dan kehabisan daya. Matanya yang cekung menatap Suhunia dengan campuran rasa terkejut dan tidak terima. Dia seakan tidak terima melihat perempuan yang selama belasan tahun selalu dia paksa menunduk, kini menatapnya lurus tanpa sedikit pun celah kelemahan. Dengan tangan yang gemetar, Azhari mengangkat gagang telepon interkom hitam yang menggantung di dinding bilik.

Suhunia merespons perlahan, menempelkan gagang telepon di sisinya ke telinga.

Begitu sambungan suara itu terbuka, bukan arogansi atau bentakan khas Azhari yang terdengar, melainkan isak tangis tertahan dan suara parau memelas; sebuah senjata manipulasi usang yang dulu selalu berhasil melumpuhkan kewarasan Suhunia.

"Nia ... Suhunia," suara Azhari bergetar dari balik interkom, diselingi tarikan napas memelas. Jari-jarinya yang kurus menempel pada kaca pembatas, menggoreskan keputusasaan. "Alhamdulillah kamu datang. Saya tahu hatimu tidak sekejam itu untuk membiarkan suamimu membusuk di tempat kotor ini. Tolong, Nia ... cabut laporannya, ya? Bagaimanapun, saya ini masih suamimu. Imam yang ditakdirkan Allah untukmu. Rida Tuhan ada pada saya ...."

Suhunia tidak bergerak sedikit pun. Matanya tetap kering, raut wajahnya tetap tenang, tidak ada secuil pun getaran iba merambat di sana. Alih-alih menjawab racauan itu, dia mengulurkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tasnya. Dengan gerakan lambat, dia mendorong amplop itu melewati celah laci sempit di bawah sekat kaca, celah yang dibuat untuk menukar berkas kunjungan, hingga mendarat tepat di depan Azhari.

Azhari menatap amplop itu dengan bingung. "A-apa ini?"

Lihat selengkapnya