Bab 1: Ikatan yang Dipercaya
Bau logam panas menempel di kulitku lebih lekat daripada bau rumah sendiri. Sejak subuh, bengkelku di pinggir Cikampek sudah dipenuhi asap tipis dari tungku peleburan, tempat besi tua dari pabrik pabrik sekitar berubah jadi cairan kelabu yang nanti kucetak ulang jadi apa saja yang dibutuhkan orang, engsel pagar, kerangka troli, potongan pipa pengganti.
Usaha ini kubangun dari nol, dimulai dari gerobak dorong yang kupakai keliling kawasan industri, mengumpulkan skrap yang dibuang begitu saja oleh pabrik pabrik besar. Butuh tujuh tahun sebelum aku punya tungku sendiri, bukan sewaan, dan dua pekerja yang bisa kupercaya untuk menjaga api tetap stabil sepanjang malam.
Ujang Kohar dulu jalan bareng aku, dorong gerobak yang sama, kadang gerobak yang beda tapi rute yang sama, sepanjang jalan raya menuju kawasan pabrik. Bedanya, Ujang lebih cepat pindah usaha. Ia jual beli onderdil bekas, lalu jual beli tanah kavling, lalu entah apa lagi, sampai akhirnya orang orang di kampung memanggilnya Haji Ujang meski aku tak pernah dengar ia berangkat.
Ia tetap datang ke bengkelku, dua tiga bulan sekali, duduk di bangku kayu dekat pintu, ngobrol soal harga besi yang naik turun, soal anak anaknya yang sekolah di kota. Waktu bengkelku nyaris tutup dua tahun lalu, mesin pemotong rusak berat dan aku tak punya uang untuk beli yang baru, Ujang yang pertama datang menawarkan pinjaman tanpa bunga. Aku menolaknya waktu itu, malu rasanya menerima uang dari kawan lama yang sudah jauh lebih mapan. Ujang cuma tertawa, bilang uang itu bukan buatku, itu buat menyambung usaha yang sudah susah payah kubangun, dan aku akhirnya luluh juga.
Sejak itu Ujang jadi semacam penyambung rezeki. Setiap kali order besar datang dari pabrik pabrik yang biasanya cuma pakai supplier besar, ternyata Ujang yang merekomendasikan namaku. Aku tidak pernah tahu persis kenapa ia begitu baik, dan aku tidak pernah benar benar bertanya. Orang seperti Ujang, pikirku waktu itu, memang jenis yang senang melihat kawan lama ikut naik.