SISA BARA
Bab 2: Yang Tersisa dari Wandi
Aku sadar bukan lewat mimpi yang perlahan memudar, tapi lewat panas yang langsung menghantam dada, seperti seseorang menempelkan besi bara ke tulang rusukku dari dalam. Tidak ada proses bangun perlahan. Hanya gelap, lalu panas, lalu aku berdiri di depan tungku yang lebih besar dari tungku bengkelku sendiri, entah sejak kapan.
Tanganku kucari lebih dulu. Ada bentuknya, tapi terasa ringan, seperti sarung tangan kosong yang dipakaikan paksa ke udara. Aku menggenggam udara itu berkali kali, mencoba meyakinkan diri sendiri masih ada sesuatu di balik bentuk yang kulihat.
Suara di sekitarku bukan suara manusia. Desis bara, gemeretak logam yang meleleh, dan sesekali erangan panjang yang datang dari segala arah sekaligus.
Aku memanggil nama istriku. Suaraku keluar, jatuh ke lubang tanpa dasar, lenyap begitu saja di kegelapan. Aku memanggil lagi, nama anakku, nama tetanggaku, nama siapa saja yang mungkin bisa menjawab. Yang menjawab cuma desis bara yang makin keras, seolah tungku itu sendiri mendengarku dan merasa terganggu.
Aku berjalan menjauh dari tungku utama, mencoba mencari batas ruangan ini. Setiap langkah terasa berat, seperti berjalan di air yang mengental. Sejauh mata memandang, hanya ada barisan tungku lain, masing masing menyala dengan iramanya sendiri, dan di setiap tungku ada sosok yang berdiri diam, menatap bara dengan cara yang membuat sesuatu di tengkukku meremang.