SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #1

SELAGI AYAH MASIH ADA

Ia sejenak rukuk sembari bibirnya beruntai doa beruntai kata yang di panjatkan pada Sang Pemilik Semesta yang telah memberikan segala rahmatnya. "Subhaana robbiyal 'adhiimi wa bihamdih," lalu lelaki setengah baya itu melanjutkan sujud, saat akan bersujud terasa ada rasa sakit yang di rasakannya, tergurat pada raut wajahnya dan hingga dua tangannya membantu menopang pergelangan belakang dua kakinya lalu ia bersujud. "Subhaana robbiyal a'laa wa bihamdih,"

"Kamu tuh selalu saja nggak pernah ngerti dan susah di kasih tahunya. Sampai kapan kamu begini terus, Firman," suaranya terdengar samar, suara itu seperti suara Sarah, istrinya Lukman sedang menasehati anak sulungnya yang selama ini sulit di atur dan keras kepala. "Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh."sholat magribnya sudah selesai, lalu Lukman beranjak bangun Untuk berdiri saja menahan rasa sakit, lalu ia sejenak menoleh kearah pintu terbuka lebar.

"Masalah, aku keras kepala apa bu? Ibu jangan asal nuduh saja dong!" bantahan suara anak sulungnya sampai terdengar ketelinga ayahnya sedang melipat sajadah lalu di sandarkan pada sandaran kursi kayu. Keningnya berkerenyit jelas terlihat di cermin lemari dan jelas guratan wajahnya semakin cemas bercampur gelisah mendengar anaknya selalu melawan dan sulit di atur.

"Yah, mana?" baru saja ayahnya terduduk menyandarkan punggung belakangnya di sandaran kursi kayu beralas sajadah sudah berdiri anaknya seraya memaksa meminta sesuatu yang mungkin saja sudah di janjikan padanya. Kedatangan kali ini ingin menangih janji pada ayahnya. Pandangan ayahnya menoleh pada istrinya hanya menahan amarah dan sekali menggelengkan kepala, tandanya ia sudah tidak kuat dengan tingkah anak sulungnya dan berharap suaminya jangan menuruti permintaan anaknya.

"Ayah, jangan turutin permintaan Firman?" ujar istrinya seraya mengajak suaminya agar tidak memberikan sesuatu pada anaknya. Mungkin saja ibunya sudah merasa tidak bisa menahan amarah pada anaknya, pandangannya melirik jam dinding sudah menunjukan jarum pendeknya pada angka enam dan jarum panjangnya sudah berhenti di angka tujuh.

"Terserah ayah, ibu mau ambil wudhu. Sebentar lagi magribnya lewat." sembari menghela napas, hatinya semakin tidak bisa menahan rasa kecewa pada anaknya. Lalu ia bergegas berjalan, dua kakinya tahu harus kemana yang masih di iringi suara gema adzan magrib terdengar.

"Fir, ayah tidak bisa mewujudkan keinginan kamu," __ "Ayah gimana si! Ayah'kan yang janjiin mau kasih modal buat usaha!" belum selesai ayahnya bicaranya sudah di potong Firman, ia seraya tidak terima dengan janji ayahnya yang ingkar. Jemari kanannya mungkin saja ikut merasa kesal ingin membantah lagi, tapi kepalanya terasa gatal.

Kelima jemari kanannya lalu menggaruk-garuk kulit kepalanya mungkin mengusir kutu-kutu menggigit kulit kepala anak keras kepala itu. Lalu setelah tidak lagi jemari kanannya menggaruk kepalanya, kini jemari kanannya di kepalkan, raut wajahnya kali ini murka ingin mengebarak meja tetapi tidak jadi.

"Akh! Ayah gimana si, ayah tukang bohong, akh!" Firman terduduk di ranjang sembari menatap wajah ayahnya yang kian berkerut seraya cepat menua. Pandangan ayahnya hanya menatap wajah anak sulungnya seraya hatinya berbisik, kapan anaknya akan segera sadar dan selalu tidak berbuat masalah. Sedikit ia tersenyum walau seraya di paksakan hanya untuk mengobati rasa kecewa pada anaknya. Lalu ia beranjak bangun sembari menahan rasa sakit dan sudah berdirinya saja tidak tegak lurus. Dua tangannya lagi-lagi memegangi pinggang kiri-kanannya, sepertinya pinggangnya terasa sakit.

Lihat selengkapnya