Jangan engkau lawan, jangan engkau sakiti dan jangan sampai air matanya menetes jatuh membasahi pipinya yang pasti hati seraya ingin mengucapkan sumpah, namun selalu tertutup bibirnya karena sudah terlanjur sangat mencintai anak-anaknya. Jika sumpahnya sampai terlontar dari mulutnya, maka sumpah itu akan abadi menyatu dengan siapa saja yang telah melukai perasaan hati seorang ibu.
Seorang ibu tidak pernah salah mengandung jabang bayi dalam rahimnya, yang ia besarkan dan jaga baik-baik dalam kandungnya selama sembilan bulan. Tidak pernah jabang bayi salah alamat berada dalam rahim seorang ibu yang sesungguhnya sangat menjaga jabang bayinya sampai terlahir kedunia. Dengan keyakinan seorang ibu akan selalu beruntai doa-doa pada penguasa semesta bila kelak anaknya lahir akan tumbuh menjadi seorang anak yang berbakti.
Terkadang sakit di rasakan, terkadang menahan rasa mual hingga sampai tidak bisa menahan muntah hanya semata-mata menjaga agar janin dalam rahimnya tetap selamat. Tetapi semua terbayar berbeda dengan setiap rangkaian untaian doa yang selalu di panjatkan pada penguasa semesta. Pupus sudah harapan seorang ibu setelah ia melahirkan seorang anak dengan penuh perjuangan, nyaris nyawanya hilang demi mempertaruhkan hidupnya untuk sang anak terlahir kedunia ini.
Setelah anak itu tumbuh tumbuh besar, miris dan bersedih hati seorang ibu ketika keinginan rangkaian setiap untaian doa terindah untuk anaknya serta merta tidak di jawab oleh penguasa semesta ini.
Sedih, menahan amarah, tetap selalu mendoakan yang terbaik walau sering di sakiti perasaannya oleh anak tercinta. Seorang ibu akan selalu mendoakan terbaik untuk anaknya walau hatinya sendiri sering di rundung kesedihan sungguh sangat menyayat hatinya.
Seorang ibu tidak bisa berbuat banyak saat ia di sakiti, bisa saja ia balas menyakiti atau membunuh jabang bayi saat berada dalam rahimnya. Akan tetapi kesetiaan seorang ibu tidaklah sampai berpikiran seperti itu, ia sudah terlanjur mengikat janji dalam benaknya untuk senantiasa selalu menjaga jabang bayinya agar selalu bahagia dalam rahim dan selamat ketika terlahir di dunia.
"Sesunguhnya aku sangat malu, aku sangat tidak suka aku terlahir dari rahim ibu!" bentaknya, sampai dua matanya menatap tajam.
Sungguh melawan dan tidak ada rasa hormatnya Firman pada ibunya selalu jadi kena pelampiasan kemarahannya. Ibunya tahu, jika permintaannya tidak di turuti pada saat itu, dan kini kemarahan anaknya meluap seperti gulungan ombak menelan menerjang hamparan pantai.
Tentu uang dari mana sebanyak itu, sedangkan jika ada m uang sebanyak yang di minta anak sulungnya. Lebih baik uangnya di gunakan untuk berobat suaminya, sudah berapa bulan ini mengidap sakit pengapuran tulang, osteoartritis.