SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #3

GEROBAK KEHIDUPAN

Malam panjang perlahan segera berganti dengan di awali suara adzan subuh berkumandang mengusik nyenyaknya lelap tidur. Sungguh merdunya suara adzan terus mengusik dan memanggil serta membangunkan setiap insan sejak tadi malam sudah lelap dalam tidur. Tak kenal dingin dengan sentuhan sejuknya air membasuh wajah dan sekujur tubuh seraya basah menggigil lalu di lanjutkan berwudhu. Semakin bersih dan semakin sempurna setiap tubuh insan untuk mengadu menguntai rangkaian doa-doa pujian pada penguasa semesta ini.

Sedangkan sinar matahari mulai menyelinap masuk kedalam celah-celah lobang kecil seraya menyinari membangunkan wajah-wajah yang masih saja terlelap dalam tidurnya. Firman seraya tidak mau, seraya tidak ingin dirinya menguntai rangkaian doa pada penguasa semesta ini. Baginya jika ia sholat merasa percuma saja, karena hidupnya tidak akan berubah dengan segela impiannya yang sampai sekarang ini masih begitu-begitu saja. Bau tidak sedap semakin terkurung dalam kamar dan hanya menari-nari dengan putaran kipas angin.

"Astaga," terkejut sembari mengibas-gibaskan jemari kanannya depan hidung karena bau tidak sedap saat masuk terjebak kedalam kamar saat melihat kakaknya masih tertidur di ranjang. Kamar berantakan, pakaian kotor berceceran di lantai, dinding tembok kamar banyak coretan tidak jelas dan banyak kertas bertulisan tidak merasa puas dengan keadaan hidup yang sedang di alaminya saat ini.

"Fir, Firman bangun udah siang. Lihat tuh, matahari udah segede itu. Bangun cepat!" dua kali adiknya menepuk pundak kakaknya tetap saja masih tidur. Bosan tiap hari adiknya selalu bangunin kakaknya, mau di siram air seember takut kakaknya marah. Pandangannya perhatikan banyak aneka coretan kertas tertempel di dinding tembok kamar.

"Malas gua hidup, hidup kayaknya nggak adil. Buat apa gua jadi anak ayah dan ibu, kalau ayah dan ibu aja hidupnya miskin. Tuhan seperti nggak adil sama gua, gua di lahirkan di keluarga yang tentu aja nggak bikin hidup gua bahagia," bacanya dalam hati, sampai dua matanya terenyuh sedih. Maaih banyak coretan kertas terpampang pada dinding tembok kamar dan hanya sebagian saja yang di baca Caca. Lalu Caca sejenak perhatikan kakaknya masih tertidur, mungkin saja benaknya berkata prihatin saat itu.

"Gua paham apa yang loe lagi hadapin, Fir. Tapi ini kehidupan, loe harus terima kenyataan nggak bisa menolak suratan takdir yang sesungguhnya loe harus jalanin dan loe harus paham dengan keadaan ayah dan ibu," semakin terenyuh sedih, semakin dua matanya berkaca-kaca. Lalu Caca tidak mau sampai meneteskan air mata, ia meninggalkan kakaknya di biarkan tertidur saja, sebelumnya ia juga menarik tirai jendela.

***

"Kak Caca, aku berangkat temanin ayah," __ "Hati-hati Ar, ingatin ayah minum obatnya," lambaian tangan Ardian pada kakaknya sudah berdiri di samping ibunya membalas melambaikan tangannya. Dua tangan keriput yang sesungguhnya sudah tidak kuat menarik gerobak yang masih kosong hanya di tumpangi anaknya, itu juga sudah membuat lelaki anak tiga itu bahagianya. Karena siang itu gerobak kehidupan penyambung keluarga sedikit terhibur, karena anak bungsunya libur sekolah dan ikut dengan ayahnya mencari rongsokan.

Lihat selengkapnya