"Bapak salah alamat tidak? Setahu saya. Saya tidak pernah menjaminkan sertifikat rumah milik saya pada bank," bantah Sarah yakin, walau hatinya cemas dan sepintas melihat copyan sertifikat rumah yang di pegang oleh lelaki bertubuh tambun. Di tambah makin ketar-ketir hatinya saat datang excavator kecil, sekopnya perlahan akan menggaruk atap rumah.
"Tunggu! Apa-apaan kalian, seenaknya aja mau main gusur rumah orang! Hehh, tunggu! Keluarga saya nggak pernah jaminkan rumah ini!" Caca sudah berdiri depan excavotor sontak terhenti, saat tuas remnya di tarik lelaki bertubuh kurus, kulitnya hitam legam dan memakai topi safety warna kuning. Sedangkan skop excavator berhenti tepatnya di kepala seorang ibu berhijab hitam yang tidak terima jika rumahnya akan segera di gusur.
"Tolong kalian minggir, saya hanya menjalankan tugas. Rumah ini sudah menjadi milik bank, karena nasabah tidak lagi menyetorkan kewajibannya," ujar lelaki bertubuh tambun memberikan copyan sertifikat rumah pada Caca merampasnya. Sejenak Caca membaca, dua kakinya lemas seraya yakin jika itu benar tertera nama ayahnya dalam sertifikat rumah.
"Bu, apa iya ayah yang jaminin rumah ini sama bank?" tanya anak gadisnya semakin gelisah berikan copyan sertifikat rumah pada ibunya sejenak membaca.
Sontak saja dua kakinya tidak kuat menopang tubuhnya yang semakin tidak kuasa untuk menyakinkan hatinya, namun kenyataan berkata lain. Jika benar itu copyan sertifikat rumahnya. Namun hatinya kembali bertanya, kenapa bisa sampai ada di bank dan siapa yang sudah menjaminkannya pada bank.
"Ibu!" terkejut Caca cepat memapah bangun ibunya melepaskan jatuh copyan sertifikat rumah tergeletak di lantai. Hatinya kian pasrah jika sebentar lagi rumah miliknya akan segera di gusur. Lalu copyan sertifikat rumah di ambil lelaki berubah tambun, dan ia juga hanya menjalankan perintah atasannya saja.
"Tunggu, apa tidak ada cara lain selain menggusur rumah ini?" __ "Tidak ada cara lain, saya hanya menjalankan perintah. Rumah ini harus di eatakan dengan tanah, dan nantinya akan segera di bangun gedung perkantoran. Cepat gusur rumah itu!" Caca seraya memohon pada lelaki bertubuh tambun sedikit tersenyum dingin dan perintahkan operator excavator segera menggusur rumah. Sekop mulai menggaruk atap rumah perlahan genteng berhamburan jatuh bermain dengan debu, lalu sekop menggaruk bagian samping rumah.
Tatapan sedih seraya tidak kuat menahan tetesan air mata, Sarah semakin tidak berdaya melihat rumahnya sebentar lagi akan tersisa puing, dan rata dengan tanah. Sedangkan karung-karung berisi rongsokan sudah tertindih dengan puing-puing rumah, tentu akan sangat sulit kembali mengais rezekinya. "Caca, siapa yang sudah berani menjaminkan rumah kita?" ujarnya menangis sesenggukan seorang ibu tua.
"Aku nggak tahu bu," jawab Caca berdiri di samping ibunya semakin sedih. Tersentak panik Caca terdorong mundur saat ibunya beranikan diri berjalan masuk kedalam rumah nyaris akan runtuh dan rata dengan tanah. "Berhenti!" sekop excavator berhenti tidak lagi melanjutkan menggaruk. Operator excavator menoleh lelaki bertubuh tambun menahan gusar melepaskan helm kuningnya.
"Bu, ibu! Ibu ngapain, bahaya bu. Ibu, ayo keluar," berapa kali dua tangan anak gadisnya menarik lengan tangan kiri ibunya hanya terdiam seraya ingin di biarkan saja. Sebelumnya rumah tertata rapi, walau perabotan dan furniturenya sederhana bukan berarti rumah untuk di tempati tidak nyaman. Kali ini, setelah berapa kali garukan sekop excavator membuat perabotan dan furniture rusak tidak beraturan tertimpa bahkan sampai tertinduh atap genteng, tiang serta reruntuhan tembok.