SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #5

PENYESALAN DAN MANJA

"Jadi ayah?" rasa penasarannya kembali bertanya dengan alasan ayahnya yang selama ini diam-diam memberikan sertifikat rumah pada anak sulungnya untuk di jaminkan pada bank.

Ragu lelaki tua itu untuk mengangguk, ia seraya takut perbuatannya akan membuat rasa kecewa dan marah istrinya padanya. Tatapan istrinya semakin dalam menatap guratan wajah penyesalan suaminya yang diam-diam sudah memberikan sertifikat rumah pada anak sulungnya untuk di jadikan jaminan bank, katanya untuk modal usaha.

Rumah itu kini sungguh tidak memiliki atap, hanya langit gelap malam jelas terlihat jadi atapnya. Sinar indung rembulan malam seraya tidak sempurna bulatannya, hanya setengah hati saja seraya ikut bersedih. Sedangkan jutaan kedipan mata bintang tidak mau menampakan sinar kecilnya, masih bersembunyi di balik gelapnya malam.

Angin terasa bebas bertiup dingin mengulik ari kulit terasa bebas berteriak kedinginan. Tidak ada penerangan cahaya lampu, biasanya malam tiba setiap ruangan selalu di terangi dengan cahaya kecil lampu. Kali ini hanya terlihat gelap pekat walau sedikit sinar indung rembulan malam mengintip bebas wajah-wajah yang sedang dalam kesedihan.

"Ayah, aku sudah berapa kali kasih tahu sama ayah. Jangan manjain Firman. Jadi gini'kan jadinya," __ "Caca sudah," gusar anak gadis keduanya, pada ayahnya merasa bersalah tapi tidak dengan istrinya yang melarang agar anak keduanya tidak menyalahkan suaminya.

Caca menoleh sontak di suguhi kesedihan di mana adiknya sudah terlelap tidur pulas beralas kardus bekas, tentu saja walau tidurnya lelap tapi tidak nyaman. Sampai sekali-sekali terjaga bangun merasa terganggu hingha dua kali tangannya menepuk mengusir nyamuk yang mengusik tidurnya.

"Ayah, ibu tunggu di sini. Aku coba cari kardus, siapa tahu bisa di pakai buat alas tidur," sembari beranjak bangun Caca melepaskan senyuman pada ayah dan ibunya sedikit mengangguk.

Caca menahan sakit dua telapak kakinya menahan ujung tajam puing berserakan, dua kakinya tidak beralas. Tidak lagi terlihat Caca, pastinya ia sedang berusaha mencari kardus bekas untuk alas tidur. Langkah dua kakinya tahu kemana ia harus mencari kardus bekas.

"Bu, jangan marahin Firman," dalam keadaan kesulitan berbalut kesedihan tetap saja seorang ayah membela anaknya agar tidak di marahin. Wajahnya lusuh terasa bebas debu-debu sisa puing menempel di wajah istrinya cepat di seka jemari tangan suaminya sembari menebar senyuman bercampur kesedihan.

"Semua sudah terjadi yah. Rumah ini sudah hancur. Hanya atap langit yang kapan saja bisa mendatangkan hujan. Kali ini langit masih berbaik hati pada kita, esok atau kapan. Kita nggak tahu. Pasti langit itu akan ikut bersedih, akan menurunkan derasnya air mata yang selama ini kita tahan-tahan," papar istrinya seraya ingin marah dan memukul anak sulungnya untung saja tidak ada di hadapannya.

Orang tua mana yang hatinya tidak merasa sedih dan pastinya sangat sayang pada anaknya, di kalah anaknya sedang dalam kesulitan dan butuh bantuan. Pasti orang tua akan berusaha dengan cara apapun hanya demi membantu meringankan beban kesulitan anaknya.

***

Lihat selengkapnya