"Ayah, aku mau di gendong. Akh, ayah. Ayo gendong aku juga," rengekannya seraya menggugah benak hati seorang ayah yang peduli cepat duduk jongkok.
Anak gadis kecilnya masih duduk gendongan belakang pundak ayahanyq, ia tidak mau turun. Sedangkan anak lelaki, ia adalah kakaknya hanya terdiam berdiri dengan dua tangannya bersedekap dan guratan wajahnya tergurat jengkel.
Tersenyum dengan tangannya membelai wajah, sontak saja belaian jemari hangat tangan ayahnya di sentak oleh tangan kecil anak lelakinya. "Aku mau di gendong, tapi Caca harus turun!" ujarnya gusar kembali dua tangannya bersedekap. Gadis kecil lantas merosot turun dari belakang punggung ayahnya, ia tahu jika emang kakaknya keras kepala dan tidak mau mengalah.
"Ayah masih kuat gendong kalian berdua. Kalian berdua naik," kata ayahnya sembari dua tangan mengepel kuat di tunjukan pada dua anaknya.
Tidak pada anak gadis kecilnya, ia menggelengkan kepala karena tahu jika kakaknya ingin di gendong sendirian oleh ayahnya. "Aku saja sendiri, aku nggak mau berduaan sama kamu!" ketus ujar anak lelaki itu bergegas naik sepunggung belakang ayah beranjak bangun berdiri dan berjoget. Tentu saja sedih pandangan gadis kecil melihat kakaknya di gendong ayahnya yang berjingkrak-jingkrak seraya berjoget di sertai kakaknya ikut menggerakan dua tangannya.
***
Kenangan itu tengah berlalu tertelan oleh waktu belasan tahun di mana tidak bisa kembali untuk terjadi lagi. Kenangan itu selalu teringat di benak gadis kecil yang mengalah dengan kakaknya. Ia kini sudah tumbuh dewasa akan tetapi sulit untuk mengikis mengusir kenangan indah itu bersama ayahnya. Walau kenangan itu bisa kembali tetap saja akan terurai dengan kesedihan dan rasa kecewa untuk mengalah akan teringiyang kembali.
Tatapannya sedih, walau dua matanya sudah terenyuh namun berusaha untuk tidak menjatuhkan tetesan air mata. Caca sejak tadi terduduk di bantaran sungai, siang itu arus riak aliran airnya tidaklah terus deras. Sekali-kali arusnya membawa sampah yang tidak tahu sampai kemana sampah-sampah itu akan bermuara.
Lalu ia menoleh kesamping kanan, pandangannya kian terenyuh sedih melihat saung kecil terbuat dari potongan dan anyaman bambu. Gerobak itu masih bisa di selamatkan dari sekop excavator, gerobak itu hanya diam membisu depan saung. Saung kecil itu tempat tinggalnya saat ini, karena rumahnya sudah rata dengan tanah.
Setelah kejadian penggusuran, Caca dan keluarganya tinggal di saung tidak jauh dari bantaran sungai. Dua kakinya mengajak berdiri, walau benaknya masih ingin terduduk menikmatinya alunan riak aliran arus sungai beratap langi senja.
Ia menghela napas dan sudah berdiri, pandangannya menoleh pada saung kecil sembari dua kakinya kini mengajaknya berjalan. "Sudah yah, jangan di ingat-ingat lagi," suaranya terdengar samar dari dalam saung namun jelas di dengar anak gadisnya tidak jadi masuk padahal dua kakinya mengajak masuk kedalam saung.
Caca sejenak berdiri depan saung, ia sepertinya sedang menguping apa yang sedang di bicarakan ayah dan ibunya dalam saung. "Ayah emang terlalu manjain dan kalau bukan karena ayah memberikan sertifikat rumah pada Firman. Kita nggak akan tinggal di sini," masih saja dan hampitr setiap hari ayahnya merasa bersalah dan itu-itu lagi yang di dengar istrinya.
"Yah, sudah. Ibu tidak menyalahkan ayah. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Walau emang terkadang terlalu pahit untuk di ingat dan di kenang," sahut istrinya seraya tidak menyalahkan suaminya terlihat sedang tertelungkup tiduran beralas kasur busa tipis. Sejak tadi dua tangan istrinya sudah basah dengan minyak gosok, memang setiap hari selalu mengurut dua kaki dan sampai pinggang suaminya.
Tidak jadi masuk kedalam saung, Caca tidak berani mengusik dan menambah beban kesedihan penyesalan ayahnya. Bila ia masuk pastinya akan ikut-ikutan menyalahkan ayahnya tentu akan sangat merasa bersalah.