Malam sudah datang dan masih terdengar suara memanggil adzan dari kejauhan namun terdengar jelas memecah keheningan suara riak aliran air arus sungai samar terdengar dari dalam saung. Hanya penerangan kecil tergantung di tiang depan saung, itu juga atas kebaikan warga sekitar yang mengalirkan listrik.
"Ardian, bantu ayah," terdengar suaranya dari dalam saung. Di luar saung hanya terhampae gelap berselimut gelap malam di sertai suara jangkrik dan katak saling bersatuan.
"Ayo yah hati-hati," tangan kanan Ardian memapah bangun ayahnya pelan-pelan beranjak bangun dari kursi, di mana ia baru selesai sholat magrib.
Cahaya juga tidak terlalu terang menerangi dalam saung yang hanya ada satu kamar dan terbagi-bagi berapa kasur tertata rapi di lantai dengan bantal dan selimut. Tidak banyak perabotan apalagi furniture untuk melengkapi ruangan saung.
Hanya ada satu kursi yang di gunakan untuk Lukman pada sholat saja, karena kaki dan pinggangnya semakin sakit. Meja saja tidak, jika makan terpaksa harus duduk lesehan di lantai. Tidak banyak gantungan baju pada dinding saung terbuat dari bilah anyaman bambu. Hanya ada gantung tas sekolah milik anak bungsu dan satu gambar yang masih bisa di selamatkan, gambar gerobak kehidupan terpampamg pada dinding anyaman bambu.
"Assalamu'alaikum Warahmatullah," mengucapkan salam kekanan lalu kiri. Beranjak bangun setelah selesai sholat masih mengenakan mukena putih.
Lalu Sarah menghampiri suaminya dengan ia mencium tangan kanan suaminya sejenak tertegun menatap wajah istrinya, dua matanya masih berkaca-kaca. Mungkin salam benak istrinya, ia habis mengadu pada penguasa semesta ini.
"Oh iya bu, tadi saat aku di sekolah. Kak Firman ngasih ini. Katanya buat ibu sama ayah," gulungan uang kertas pecahan dua puluhan terikat karet di berikan ibunya. Lalu Ardian kembali duduk sedikit membungkuk, tangan kanannya pegang balpoint menulis di buku.
Tatapan dua pasang mata sontak tidak bergeming mulai berkaca-kaca tidak berpaling hanya menatap gulungan uang kertas terikat karet. "Ar, ini benaran dari Kak Firman?" nadanya tidak percaya sembari tunjukan gulungan uang kertas terikat karet pada anak bungsunya. Sejenak Ardian menatap ibunya masih tunjukan uang kertas padanya.
"Iya bu, tadi Kak Firman yang ngasih aku. Itu buat ibu. Untuk masak," sahut Ardian masukan buku dan balpoint kedalam tas, lalu terbaring tidur.
"Kak Firman juga titip salam buat ayah. Ayah biar lekas sembuh. Terus Kak Firman janji nggak akan nakal lagi," sembari menarik selimut Ardian menoleh ayah dan ibunya sontak saja pecah tangis tapi sulit mengeluarkan tetesan air mata. Mungkin saja doa kedua orang tua itu sudah di dengar penguasa semesta ini untuk ketiga anak-anaknya senantiasa selalu berada di jalan yang benar.
***
"Makanya kamu tuh jadi anak jangan bikin orang tua susah terus. Dosa tahu. Apalagi sampai bikin orang tua menangis, dosa kamu tuh bakalan nggak di ampunin tahu," sembari ngoceh dan hampir setiap hari wanita tua itu selalu menasehati anak sulung yang sudah berapa hari tidak pulang.