Berlari cepat menerabas apa yang ada di depan, mendorong jatuh setiap penghalang menghadang dan berteriak mengejar seorang yang telah merampas dan membohonginya. "Tar, Tarno! Berhenti loe, berhenti jangan lari!!!" suaranya lantang terdengar sembari dua tangannya menyibak mendorong pengunjung pasar sampai minggir terkejut.
Lelaki berperawakan kurus tentunya semakin gesit cepat berlari, lelaki itu Tarno yang di sangkakan membawa uang modalnya. Tidak punya rasa bersalah ia terus berlari menghindari dari kejaran Firman semakin cepat mengejarnya dari belakang.
"Minggir! Minggir loe!" Tarno makin panik nyaris pundaknya tersentuh dari belakang oleh jemari kanan Firman menahan gusar.
"Balikin duit gua, penipu! Bangsat loe!" tudingannya di sertai terbang dan lepasnya ayam-ayam dalam kandang karena tertendang tidak sengaja oleh lelaki kurus penipu.
Tarno terjatuh ketika kaki kanannya lagi-lagi tidak sengaja menginjak lantai basah bercampur darah. Ia merangkak mundur sembari dua kakinya menendang wajah Firman semakin gusar menangkis dua kaki lelaki yang telah menipunya.
"Suee loe! Lihat! Lihat! Ayam-ayam gua pada lepas! Loe juga ngerusak kandang gua! Emang monyong loe! Akh!" __ "Bang, biar gua yang ngasih pelajaran!" pedagang dan pemilik lapak ayam meradang marah menarik akan memukul wajah Tarno nyaris lebam sontak cepat di tariknya oleh Firman.
Lelaki yang ternyata sering menipu tidak hanya pedagang, tapi juga Firman. Sesungguhnya Tarno memang sedang di cari banyak orang karena perbuatannya sudah merugikan banyak orang, terutama pedagang pasar sudah terbuai dengan janjinya.
Tertawa dingin, tangan kirinya menarik kerah baju dan kepalan tangan kanannya siap membogom wajah lelaki penipu. "Ampun, ampun Fir," ketakutan dua matanya jelas melihat kepalan tangan kanan Firman sontak mendarat di pipi kanannya menahan sakit.
"Loe keterlaluan Tarno! Gua percaya sama loe! Tapi loe emang bangsat! Akh!" sekali lagi kepalan tangan kanannya mendarat di pipi, kali ini pipi kirinya menahan sakit dan terjatuh tertelungkup.
Gusar pedagang ayam melihat kandangnya rusak, dan ayam-ayamnya lepas. "Uhhh biar mampus sekalian loe!" sengaja pedagang ayam, dua kakinya berjalan seraya menginjak semakin menahan rasa sakit dan basah bajunya Tarno.
"Bangun loe! Loe mau cari perlindungan sama siapa? Katanya loe punya bekingan? Bekingan tai ayam!" di pukulnya kali ini bertubi-tubi tidak hanya dengan satu kepalan tangan, tapi dengan kepalan dua tangan bergantian memukul bagian perut lelaki penipu sampai terjungkal dan jatuh lagi. Darah keluar membasahi tepian bibirnya sembari dua tangannya menahan menyatu dengan lantai seraya mengajak pantatnya merangkak mundur.