SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #9

AIR MATA BERCAMPUR HUJAN

Benaknya cemas bercampur gelisah, wajahnya basah tertetes air rintik hujan yang masuk bocor lewat celah atap saung. Banyak ember yang tergeletak menampung bocor derasnya rintik hujan. Sekali-kali ia berjalan dan berdiri depan pintu saung perhatikan arus riak sungai, suaranya terdengar deras. Lalu ia kembali masuk lagi dan menggulung kasur busa lalu di tumpuknya jadi satu.

"Bletarr!" suara kilat menyambar.

Lantai nyaris basah, atap semuanya nyaris bocor tidak bisa menahan derasnya rintik hujan yang turun tiba-tiba.

"Bu, ibu!" terdengar suara memaggil dari luar. Bergegas Sarah berjalan keluar, ia terkejut melihat anak bungsunya sudah basah kuyub. Seragam sekolah dan tasnya juga basah.

"Ar, kenapa kamu pulang. Kamu bisa'kan nunggu hujan berhenti," panik bercampur gusar cekatan seorang ibu mengelap wajah anaknya dengan ujung bajunya. Hatinya mulai di hantui kecemasan saat melihat permukaan sungai nyaris sama dengan tepian bantarannya. Belum lagi hatinya semakin terkulik memikirkan suaminya yang belum pulang.

"Tadi aku pulang, karena aku khawatir sama ibu. Bu, ayah belum pulang," belum sempat anaknya habis bicara, langsung di peluknya erat. Raut wajahnya sontak saja sedih bercampur basah air hujan dengan apa yang baru di dengar anak bungsunya.

"Ar, kamu ganti baju sana. Biar ibu yang nunggu ayah di sini," __ "Iya bu," pelukan hangat di lepaskan dan Ardian bergegas jalan masuk kedalam.

Pandangannya kembali melihat permukaan air sungai makin meninggi dan sekali-kali riaknya melewati tepian bantaran. Membuat takut dan panik, raut wajahnya semakin tergurat gelisah dan hatinya semakin terkulik cemas.

Kini pandangannya terhenti saat melihat dua orang lelaki, satu menarik gerobak dan satu lagi mendorong gerobak dari belakang. Tidak peduli hujan masih deras, pikirannya sudah terkulik gelisah. Dua kakinya cepat mengajak jalan tanpa menggunakan alas.

Satu lelaki berhenti saat di hampari wanita tua, wajahnya semakin basah walau kepalanya masih terbalut hijab warna putih. Satu lelaki menoleh belakang, kemudian satu lelaki yang mendorong gerobak itu menghampiri istri pemilik gerobak, hatinya semakin bertanya-tanya di mana suaminya berada.

"Gerobak itu kenapa sama kalian?" tanya wanita tua, wajahnya semakin basah dan hatinya semakin di hatui kegelisaan. "Bletarrr!" dua lelaki terkejut saat kilat petir kembali menyambar.

Makin ingin tahu dan pikirannya mulai terusik apa yang dalam gerobak seperti ada sesuatu yang di tutupi terpal biru dalam gerobak itu. Pandangan Sarah tak bergeming, ia terus perhatikan sesuatu di balik terpal warna biru yang sudah lepek basah.

"Bu Sarah," dua kakinya sigap berhenti, lalu Sarah berbalik tidak jadi mendekati gerobak. Canggung dan bingung dua lelaki sejenak saling menoleh, walau wajah dan sekujur tubuh mereka berdua juga sudah basah kuyub.

"Mana Pak Lukman?" suaranya pelan tapi pertanyaan itu terdengar jelas dari bibir seorang istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya pada dua lelaki.

Lihat selengkapnya