SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #10

SEKOLAH RUMAH KEDUA

Bendera Merah Putih terlihat gagah berkibar berdiri di puncak tiang besi tinggi mengangkasa seraya tak'kan tergoyah walau tergoda dengan semilir angin. Langitpun ikut tersenyum berbahagia dengan awan putih bergulung bermain dengan sinar terik mataharinya.

Bangunan sekolah dasar tampak berdiri kokoh di kelilingi gedung-gedung menjulang tinggi seraya ingin mencakar langit. Masih terasa hening halaman sekolah tidak terlihat satupun murid yang baru saja di panggil bell sekolah, di mana mereka sedang di tempuh untuk menjadi anak-anak hebat negeri ini.

Sepanjang lorong koridor sekolah terlihat lantainya masih terlelap dalam tidur, mungkin sebentar lagi lantainya akan terinjak ratusan pasang kaki beralas aneka model sepatu. Pintu-pintu kelas masih tertutup rapat walau sayup terdengar suara pencetak masa depan anak-anak bangsa sedang terdengar suaranya tegas sedang mengajar.

"Peduli dan saling tolong-menolong menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Benar tidak?" __ "Benar bu guru ..." setelah memaparkan lalu bertanya seorang guru wanita pada murid-muridnya yang semua murid menjawab dengan semangat.

"Kita harus peduli dengan sesama, dan saling tolong menolong pada saat teman, saudara atau siapapun sedang membutuhkan," papar lagi guru wanita berkaca, ia berdiri terapit meja kursi di duduki Ardian dan Lala. Ardian tersenyum menyimak apa yang di katakan guru wanita dan sekali ia menoleh Lala, teman sekelasnya duduk di sampingnya.

"Teng ... Teng ..." suara bell sekolah terdengar, tanda murid-murid segera istirahat.

Semua murid berhamburan keluar, mereka membawa botol minum dan bekal makan siang dari rumah. Tidak dengan anak pemulung, ia hanya terduduk perhatikan teman-temannya berlomba berlarian keluar takut waktu jam istirahat habis.

"Ar, kamu nggak bawa bekal?" tanya Lala sembari mengambil bekal dan botol minum dari dalam tas. Langkahnya tidak jadi keluar, benaknya terkulik prihatin dengan teman baiknya. Lalu ia terduduk lagi, di bukanya bekal makan siang sudah tercium aroma wangi pastinya menggoda lambung anak pemulung berpura-pura menahan rasa laparnya.

"Ar, kamu tidak ikut keluar istirahat?" tanya guru wanita, ia malahan menarik kursi dan setelah duduk meletakan bekal makan dan botol minuman.

Lagi-lagi membuat lambung anak pemulung itu memanggil tambah lapar ketika guru wanita berkaca yang di panggil Bu Ria membuka bekal makan siangnya.

"Rumahku habis kebanjiran, semua alat masak ikut terbawa banjir. Jadi ibu nggak masak," jawabnya polos dengan dua matanya tidak mendelik sama sekali melihat dua bekal makan siang semakin membuat lambungnya memanggil ingin makan.

Lihat selengkapnya