SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #11

TITIK TERENDAH ORANG TUA

"Terima kasih Bang Rahman sudah ngasih tempat tinggal," __ "Sama-sama Ca. Kamu dan keluargamu mau berapa lama tinggal di sini, silahkan Ca." ada rasa sungkan tidak enak hati terucap dari bibir manis gadis barista kedai kopi pada owner kedai kopi santai yang begitu peduli dan baik hati.

Memang tidak terlalu besar tempat tinggal itu, hanya sekamar saja letaknya tidak jauh persis di belakang kedai kopi di mana Caca bekerja sebagai barista. Menahan sedih dan bahagia sudah jadi satu tergurat di raut wajah anak gadis pemulung ketika melihat ibunya sedang mengelap meja dan masukan gelas plastik bekas kopi kedalam kantong plastik hitam besar.

"Bu, biar aku saja," ujar lirih menahan sedih sembari menghampiri ibunya sejenak menoleh pada owner kedai kopi santai.

"Tidak apa-apa, ibu saja. Sudah sana, kamu layanin saja yang beli kopi. Nak Rahman, terima kasih ya kami boleh tinggal di sini. Ibu juga sekalian bisa bantuin Caca ngumpulin gelas-gelas ini," tuturnya terharu jelas tergurat di raut wajahnya sembari menunjukan gelas plastik bekas pada owner kopi santai semakin ikut terhanyut rasa haru.

Caca dari dalam kedai pandangannya tak bergeming di sertai titik air mata menetes sesaat melihat ibunya membawa kantong plastik hitam besar. Seraya ia tidak malu dengan sekali mengangguk pada pengunjung dengan memohon meminta belas kasihan meminta gelas plastik kopi bekas untuknya. Itulah orang tua, ia akan rela dan tidak malu melakukan apapun hanya demi anak-anaknya.

"Mbak kopinya," __ "Iya, iya ini mbak," pengunjung sejenak ikut menoleh kedepan melihat istri pemulung masukan gelas plastik bekas kedalam kantong pabrik besar hitam. Tidak enak hati Caca segera memberikan kopi pada gadis pengunjung kembali duduk bergabung bersama lainnya.

***

Rasa putus asa dan tidak tahu lagi harus bagaimana seorang lelaki tua, ia kepala keluarga yang tidak seharusnya berhenti mencari nafkah untuk keluarganya. Apapun akan di lakukannya hanya demi dapur mengepul dan memberikan kehidupan untuk anak-anaknya. Sudah terasa lelah dan terasa sakit semakin di rasakannya, semua itu tidak peduli benaknya hanya berpikir bagaimana hari itu ia mendapatkan rezeki dan pulang membawa pundi rupiah.

Lukman sejenak berdiri di tepian jalan, tepatnya di samping lampu merah. Mobil tertata rapi berhenti di dalam garis marka jalan, pandangannya melihat seorang lelaki menarik gerobak yang di bantu anak lelaki mendorong gerobak dari belakang. Mungkin saja ia merasa miris, jika gerobak kehidupannya juga hilang seserat arus banjir. Ia juga tidak bisa lagi mencari rongsok, dan jika ada gerobak tentu saja ia akan di larang dua satpam yang sudah memfitnah dan memukulinya sampai jatuh pingsan.

"Tin ... Tin ...," lampu sudah berganti hijau, semua mobil dan kendaraan lain berjalan di sertai suara klakson bersautan.

Lihat selengkapnya