Ruangan itu tidak terlalu besar, untuk ruangan tamu saja hanya tersekat dengan tirai kain ukuran sedang, di mana di balik tirai itu sedang terbaring tidur lelaki pemulung. Yang tadi siang di sangkakan sedang mengemis dengan cara membaca alquran di bawah lampu merah. Ia terenyuh sedih, benak berpikir cepat di sertai rasa sakit yang semakin tidak mau beranjak pergi atau lekas sembuh.
Sedangkan istrinya masih sholat di sampingnya, dua kupingnya juga jelas mendengar apa yang sedang teruntai dari bibir istrinya dengan masih menengadahkan dua tangannya sejajar dengan dada.
"Ya Alloh, ampuni segala dosa-dosa hamba. Berikan kesehatan untuk suami hamba. Ampuni segala dosa-dosa perbuatan anak hamba dan selalu di lindungi walau berada di manapun berada," dua mata berkaca-kaca menahan kesedihan dan ari mata.
"Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah," selesai sholat ia mengucapkan salam menoleh kanan dan kiri. Lalu beranjak bangun baru saja ingin mengambil sajadah untuk di lepitnya tidak jadi saat mendengar suara tangisan lirih anak gadisnya.
"Aku bukan seperti mereka, gadis yang hanya mencintai pacarnya, karena pacarnya kaya raya. Aku nggak seperti itu Jon," tidak kuasa menahan tangis, Caca berusaha meyakinkan pacarnya, jika ia tidak seperti gadis lain yang matre.
Sekali Joni menoleh tirai terlihat bayangan seorang sedang melipat sajadah. Antara ia dan Caca terduduk hanya tersekat tirai kain, di mana di balik tirai kain tempat tidurnya dua orang tua pacarnya. Sedangkan Ardian tidur tergeletak beralaskan kasur tipis di samping kakaknya.
"Aku bisa apa. Aku sudah pertahankan hubungan kita, Ca. Tetap saja ibuku, tidak mau aku melanjutkan hubungan ini," tandasnya, walau bibirnya terucap ragu dan hatinya terguncang kesedihan. Joni menghela napas sedih, ia tahu di balik tirai itu pastinya dua orang pacarnya sedang terhantam ombak kesedihan karena mendengar pernyataannya.
"Aku harap kamu mengerti, Ca. Walau aku juga tidak mau hubungan ini terhenti sampai sini. Dan aku tidak mau, aku jadi anak durhaka," beranjak bangun, walau hatinya Joni tidak tega melihat pacarnya hanya duduk meringkuk seraya ingin memohon padanya.
"Nggak, nggak Jon. Aku nggak mau hubungan kita berakhir," ucap Caca cepat dua tangannya seraya memohon dan memegang dua kaki pacarnya cepat meraih pundak.
Caca beranjak bangun menatap wajah pacarnya semakin tidak kuasa menahan tangisan dan perlahan dua tangannya mendorong pelan. Caca mundur selangkah kebelakang semakin tidak kuasa menahan tangisan saat dua kaki itu mengajak pacarnya pergi meninggalkannya.
"Ca?" tirai terbuka lebar, jelas terlihat ayahnya sedang terbaring menoleh padanya. Ibunya setelah membuka tirai, ia menghampiri anaknya.
Menangis sesenggukan, wajahnya sembab basah karena air mata semakin tidak terbendung. Lalu di sekanya dengan ujung mukenah berwarna putih yang masih di pakai ibunya. Sedangkan ayah ikut prihatin dengan apa yang baru di lihat dan di dengarnya.
"Bu, kenapa hidup kita begini. Sampai-sampai aku di putusin Joni. Karena keluarga kita miskin. Ibunya Joni nggak mau terima aku," tutur Caca pada ibunya juga tidak bisa menahan kesedihan, air matanya semakin membasahi wajahnya.