SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #13

TAK BERDAYA

Suara tawar menawar antara pedagang dan pembeli terdengar riuh, suara cepat dua kaki melangkah tukang angkut terdengar jelas derap langkah jalannya mengangkut keranjang berisi sayuran.

Suara keras menakurkan terdengar ngeri saat tukang daging saat kapaknya berkali-kali memotong tulang sebentar lagi akan berada di panci untuk di jadikan sop. Suara kepakan sayap ayam bikin merinding dalam tong besar di mana banyak ayam mengelepar kesakitan saat lehernya terpotong bersimbah darah.

"Minggir! Awas air panas!" ujar menahan berat dan capek memanggul keranjang sayuran melewati banyak orang di koridor lorong pasar. Ia adalah Tarno yang bergegas cepat jalan, napasnya tersengal-sengal capek dan seketika menabrak pembeli seorang wanita sedang berdiri depan lapak sayur.

"Bu, mata ibu buta ya?!" bentaknya, padahal yang salah siapa. Tarno gusar menurunkan keranjang sayuran dan saking gusarnya akan menarik pundak wanita itu sudah berbalik duluan.

"Mas, saya berdiri di sini lagi beli sayuran. Mas yang tidak punya mata dan jalannya tidak hati-hati, kenapa salahin saya!" balik bentak wanita berhijab putih, ia adalah Sarah, ibunya Firman.

"Loh ibu yang sewot! Lagian ibu berdirinya ngalangin jalan saya!" balik lagi menuding sembari mengangkat keranjang sayuran.

"Makanya bu walau belanja di pasar pake mata!" belum puas lagi Tarno memaki wanita berhijab putih, ia terdiam membayar sayuran pada pedagang.

"Lama bangat loe, cepat naikin!" __ "Tuh tadi ada ibu-ibu ngalangin jalan gua. Gua jatuh, untung sayurannya nggak apa-apa," Firman gusar sejak tadi ia menunggu di atas mobil mengambil keranjang sayuran dari pundak Tarno.

"Nih, ini ibunya yang bikin gua jatuh! Ngapain loe kesini?!" di bentak lagi, kali ini makin berani mungkin saja Tarno memarahi ibu yang tadi di tuduh telah membuatnya terjatuh, ternyata di belakangnya karena sudah berdiri sopir bak terbuka.

Bergegas turun, makin bingung lelaki mantan penipu dan nyaris mati di pukul Firman. "Fir, ngapain loe dekatin ibu itu?" tanya bingung Tarno saat Firman berdiri dan seketika bersujud pegang dua kaki ibunya.

"Bu, maafin Firman," Firman menunduk mencium dua kaki ibunya walau terlihat kotor. Makin bingung menggaruk kepalanya, Tarno berdiri di belakang Firman masih saja menunduk kepalanya tidak mau beranjak bangun.

"Fir, emang loe kenal sama ibu ini?" tanya semakin bingung dan kembali menggaruk kepala lagi. Tatapannya dalam, dua matanya tidak bergeming untuk berkedip menatap lama Tarno jadi kikuk dan bingung.

Lihat selengkapnya