Tidak lagi mau di sangka mengemis dengan meminta belas kasihan dari banyak orang walau dengan cara apapun. Walau sedang sakit, tapi tidak mau berdiam diri saja. Padahal dua mata kakinya sering meneteskan air mata di mana dua kakinya selalu di paksa berjalan, yang jalannya saja tertatih-tatih menahan rasa sakit.
Padahal anak dan istrinya sudah melarang agar tidak lagi mencari rongsokan, bukan alasan gerobaknya sudah tidak ada. Padahal sudah cukup mencari gelas plastik bekas di kedai kopi tempat bekerja anak gadisnya. Tetap saja keras kepalanya seorang ayah walau kali ini hanya bermodalkan karung dan besi pengait, Lukman berjalan mencari barang rongsok di sekitar komplek perumahan.
Ia tidak merasa takut bila nanti bertemu dengan dua satpam sudah pernah memukulinya sampai jatuh pingsan. Sudah berdiri di depan pintu gerbang besar, pintu masuk komplek perumahan sudah di hadang dua satpam menatap marah. Hanya mengangguk dan mengerti, Lukman tidak berani dan ia bergegas pergi tidak jadi masuk kedalam komplek perumahan.
Dua kakinya pergi mengajak berjalan tidak tahu kemana, tangan kirinya menenteng karung masih kosong dan tangan kanannya berusaha mengais rongsok di tong sampah dengan besi pengait, yang di carinya tidak ada. Pandangannya menoleh keseberang jalan, lewat gerobak di tarik lelaki pemulung. Pastinya tong-tong sampah berisi rongsok di pinggir jalan sudah di ambil pemulung itu.
Rezekinya sesiang itu sudah jadi milik orang lain, ia tersenyum seraya tidak mengapa jika masih ada hari esok dan akan datang lebih pagi mencari rongsok. Sejenak ia berdiri di tepian jalan, kakinya mulai mengulik rasa sakit sampai sepinggang. Pandangannya menoleh kekanan, dua kakinya segera mengajak menyerang jalan tanpa menoleh kekiri jalan.
"Tin ... Tin ...!" sontak menoleh kekiri, pengemudi mobil terkejut menginjak rem sudah terlambat. Bemper depan mobil menabrak lelaki pemulung itu terpental jatuh. Panik dan bingung pengemudi turun dari mobilnya melihat Lukman tidak sadarkan diri dan terlihat alquran kecil tergeletak di sampingnya terjatuh dari saku bajunya.
Tidak menolongnya, pengemudi mobil melihat sekitar sepi. Lalu cepat kembali masuk kedalam mobil berjalan cepat. Nasib apes kembali menimpa lelaki tua pemulung, kali ini ia tertabrak mobil dan pengemudi mobilnya tidak mau bertanggung jawab dan pergi begitu saja meninggalkannya korbannya tergeletak di tengah jalan.
***
Mobil bak terbuka berhenti depan kedai kopi, dari dalam kedai kopi pandangan tajam Caca melihat ibunya turun saat pintu mobil di bukakannya oleh orang yang di kenalnya. Amarah sontak bergemuruh seraya meradang marah dan dua kakinya mengajaknya berlari cepat. Bingung owner kedai kopi dan pegawai lainnya melihat gadis barista berjalan melewati penikmat kopi.
"Ibu tinggal di sini?" tanya anak sulungnya melihat kedai kopi ramai pengunjung. Ibunya hanya mengangguk menoleh Tarno berdiri di sampingnya sambil bawa belanjaan.
"Loe pulang?! Ngapain loe pulang?!" __ "Caca," baru saja Firman akan memapah jalan ibunya, lengan ibunya sudah di tarik dan membentak kakaknya di lerai ibunya.
Tarno makin ketakutan ia hanya menunduk ketakutan, takut kalau terjadi keributan ia bakalan jadi sasaran kemarahan.
"Udah ibu jangan belain Firman terus! Loe nggak usah pulang! Loe nggak tahu apa yang udah terjadi sama ibu dan ayah! Sementara loe pergi! Gua, Ardian, ayah dan ibu nggak tahu harus tinggal di mana! Hampir aja ayah, ibu sama Ardian mati keseret banjir! Loe emang nggak punya hati Firman. Loe sampai tega, gara-gara loe. Ayah dan ibu sampai tinggal di gubuk!" bentak adik keduanya meluapkan amarah sekali menoleh Tarno menunduk ketakutan.