SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #15

HANYA AIR MATA KESEDIHAN

Kali ini sikap dan tabiatnya sungguh jauh berbeda, sebelumnya hanya selalu membuat air mata kesedihan dan masalah. Namun kini ia sungguh sangat perhatian dengan ayah, ibu serta adik bungsunya.

Firman begitu sangat perhatian terlebih pada ayahnya seraya semakin lupa dengan rasa sakitnya. Ayahnya seraya tidak lagi meratapi kesedihan, tidak lagi hatinya tersakiti yang ada kini hanya rasa bangga terumbar senyuman selalu terpapar dari guratan raut wajah yang semakin menua.

Di waktu pagi dan menjelang sore tubuh ringkihnya selalu basah dengan air kesejukan terlandasi kesabaran dari anak sulungnya ketika memandikan ayahnya. Haru biru kian tergurat di raut wajahnya seraya kerutan menuanya beranjak pergi hanya terhampar senyuman ketika menatap wajah anak sulungnya sedang memandikannya.

Tidak hanya memandikan, Firman juga begitu sabarnya memakaikan baju dan membantunya duduk di kursi saat ayahnya ingin menjalankan sholat lima waktu. Tidak ada rasa lelah dan capek, apa yang di lakukannya seraya belum terbayar dengan apa yang telah di lakukannya dengan selalu membuat air mata kesedihan ayah dan ibunya.

"Ayah pintar, makannya habis tuh," ledeknya sembari jemari kanannya menyeka sisa nasi di bawah bibir ayahnya.

Tidak dengan adik gadisnya, ia seraya masih menyimpan rasa tidak percaya dengan rasa amarahnya masih belum ingin beranjak pergi. Walau adik gadisnya melihat ada perubahan dengan kakaknya, tetap saja masih antipati dan tidak percaya dengan perlakukan kakak pada ayahnya.

"Bang Tarno, benaran ini buat aku?" tanya tidak percaya Ardian saat di berikan sepatu kets warna hitam dan tas gemblok baru. Tarno menoleh pada Firman tersenyum mengangguk sembari membaringkan ayahnya di kasur.

"Tadi Kak Firman yang beliin di pasar," jawab Tarno tersenyum sontak berubah wajahnya jadi ketakutan saat di pelototi adik gadisnya Firman.

"Loe jangan diam aja, cepat bantuin gua di kedai," kata Caca memasang raut wajah dingin pada Tarno hanya mengangguk dan beranjak jalan pergi di ikuti Caca melempar senyuman dingin pada kakaknya.

"Bagus bangat kak sepatu sama tasnya. Makasih loe kak, aku di beliin tas baru sama sepatu. Soalnya sepatu dan tas aku sama buku-buku kebawa banjir. Ya'kan bu?" tutur adik bungsunya sembari menoleh ibunya tersenyum kecil pada Firman sontak tidak enak hatinya.

Firman terduduk di samping ibunya sedang mengurut kaki suaminya. Masih terlihat lebam pada wajah dan lengan tangan lelaki tua yang sejak anak sulungnya pulang, wajahnya selalu terumbar senyuman. Terlihat pada dua mata anak sulungnya berkaca-kaca namun di tahannya saat di lihat ayahnya.

"Firman kamu kenapa?" tanya ayahnya di sertai istrinya menoleh pada anak sulungnya sontak saja tetesan air mata jatuh menetesi wajahnya.

"Maafin Firman, yah." langsung ia berdeku dan mencium dua kaki ayahnya menahan kesedihan.

Jemari kanan ibunya lalu mendarat mengelus kepala anaknya, bibirnya masih belum ingin beranjak pergi masih mencium dua kaki ayahnya.

Lihat selengkapnya