Pengunjung kedai kopi sudah tidak ada, hanya terlihat sepi sunyi kursi dan meja kosong. Sinar indung rembulan malam terlihat sungguh bahagia malam itu dengan sinarnya sangat terang menerangi semesta.
Kantong plastik hitam besar sudah terisi penuh dengan gelas plastik bekas kopi. Pekerjaannya sungguh sangat terbantu sejak kehadiran Tarno, tapi hatinya masih tetap tidak yakin dengan keberadaan kakaknya.
"Tar, udah loe istirahat aja. Makasih udah bantuin gua," sedikit tersenyum Caca pada Tarno mengangguk beranjak jalan bawa kantong plastik hitam besar berpapasan dengan Rahman mengangguk.
Di tariknya kursi, lalu Caca terduduk sejenak mendongak menatap indahnya indung rembulan malam walau sedikit tertutup dedaunan pepohonan. Ia menoleh kesamping kanan sudah berdiri Rahman di sertai Caca beranjak bangun.
"Bang Rahman. Makasih bang, saya nggak tahu harus dari mana mengatakan terima kasih dengan kebaikan Bang Rahman yang bukan hanya ngasih tempat tinggal. Tapi udah ngebantuin untuk biaya ayah berobat," Caca tersenyum sempat menoleh pada owner kedai kopi santai.
"Nggak usah sungkan Ca. Kamu sudah bantuin saya di kedai kopi ini. Sepantasnya saya juga membantu keluargamu," jawabnya diam-diam menoleh kesamping kanan tidak di sadari gadis barista kembali lagi menatap indung rembulan malam.
"Sinar rembulan malam itu sangat indah," gumamnya sendiri tanpa di sadari sejak tadi gadis peracik kopi di perhatikan dari belakang oleh owner kedai kopi santai.
"Rembulan itu indah, seperti wajah kamu," tidak lagi menatap indung rembulan malam, berat dua kakinya mengajak berbalik sesaat mendengar uangkapan hati cowok sederhana owner kedai kopi santai.
Tidak mau berlama-lama, kedua kakinya mengajak berbalik. Dua wajah saling menatap dalam, dua pasang mata saling terbayang setiap wajah satu sama lainnya.
"Ca, aku mencintai kamu," dua tangannya beranikan diri untuk meraih jemari gadis barista sejenak tertegun diam tidak menjawab.
Jantung owner kedai kopi seraya berdegub kencang menunggu jawaban dari bibir manis gadis yang selama ini di cintainya. Tapi gadis itu hanya diam menatap dalam, bibirnya seraya tidak berani menjawab karena hatinya masih berharap, jika malam itu pacarnya kembali datang menyatakan cinta lagi padanya.
"Ca?" tidak ada jawaban, hanya hentakan dua tangannya saja yang terjawab.