Mimpi bahagia tak selalu terwujud nyata, selalu ada andil sang penguasa semesta ikut menentukannya, apakah mimpi bahagia selalu berwujud nyata dalam kehidupan. Walau dalam ikhtiar tidur berharap mimpi kan'datang kebahagiaan berharap sama dengan kenyataan hidup nyata.
Tak semudah harapan telah sekian lama memupuk rencana kebahagiaan begitu saja pergi terhampas riak gelombang keegoisan, hanya karena status sosial yang tidak setara. Terpuruk dalam kesedihan seraya tak terima keadaan dan hati selalu bergumam menyalahkan penguasa semesta ini, bila hidup ini sungguh tidaklah adil.
Sementara hidupnya dalam keterbatasan dengan status sosialnya sungguh jauh berbeda dengan calon pasangannya yang sesungguhnya jauh lebih berada, dan selalu terucap kata hormat dan sungkan karena status sosialnya yang sangat berada. Gadis barista peracik kopi seraya ia hanya terpuruk dalam kesenjangan yang berkepanjangan dan selalu menyalahkan keadaan, jika tak tahu kapan kebahagiaan sejati akan menghampiri dan memeluknya.
"Cinta saya dan Joni tidak bisa di beli dengan apapun, terlebih dengan uang ini," sejak tadi ia sudah tidak bisa menahan amarahnya karena harga sebuah cinta harus terusir dengan sejumlah uang dalam amplop coklat tergeletak di meja.
Caca menatap dalam dengan dua matanya berkaca-kaca, tatapannya seraya terkalahkan dengan senyuman dingin wanita berstatus sosial tinggi yang ingin menjauhkan cinta tulusnya seorang gadis yang tidak setara dengan anak satu-satunya, pewaris tunggal kekayaannya.
"Dengan uang ini, kamu bisa membeli apapun. Termasuk kebahagiaan. Jauhkan Joni," di sodorkan lebih dekat amplop coklat berisi uang. Maya beranjak bangun sekali jemari tangannya melepaskan kaca mata hitamnya dan jelas melihat gadis barista itu bersedih.
"Biarkan Joni bahagia dengan gadis pilihannya," tegas apa katanya lagi sembari di pakai lagi kaca mata hitam dan beranjak jalan menuju mobil yang tidak jauh dari parkiran kedai kopi santai.
Pandangan mata Caca tertegun hanya makin bersedih menatap sejenak amplop coklat dan beranjak bangun di ambilnya amplop coklat. Seraya cintanya tidak bisa di jauhkan dengan amplop berisi uang.
"Apa setiap kebahagiaan seorang gadis bisa di beli dan di tukar dengan uang! Enggak Tente, kebahagiaan saya tak bisa di beli dengan ini! Biarkan Joni pergi dengan perahu cintanya mengarungi lautan, walau tanpa dayung, dan biarkan dayung itu menunggu di tepian lautan," di lemparnya amplop kedalam mobil sembari Caca meluapkan amarahnya dan ia berbalik bergegas jalan berpapasan dengan owner kedai kopi santai.
Gusar menahan marah wanita yang status sosialnya lebih tinggi, seraya siang itu harga dirinya begitu saja tertolak dan terlempar kandas ketengah lautan oleh gadis yang kebahagiaannya tidak bisa di beli dan di tukar dengan uang.