SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #18

CARA YANG SALAH

"Ya bagus dong, dan kamu harus bersyukur ada rejeki bisa beliin rumah untuk keluarga kamu," tutur wanita tua pemilik warung sembari mengambil piring dan gelas kotor di meja.

Tidak banyak aneka masakan tertata dalam etalase seperti sebelumnya, etalase terisi penuh dengan aneka masakan. Hanya terlihat ada berapa aneka masakan matang tertata di wadah stanlies.

Raut wajahnya tidak lagi seceria seperti kemarin-kemarin, atau wanita tua pemilik warung sedang sakit dan biasanya selalu memberikan ceramah pada saja yang makan di warungnya. Kali ini seraya ia tidak bersemangat, atau memang sedang sakit.

Dua wajah saling menoleh bingung, padahal keduanya menanti nasehat tertutur dari mulut Mbok Sum setelah mencuci piring dan gelas, ia hanya terduduk menatap kosong. Sampai jemari kanan Tarno menepuk sekali pundaknya Firman menggelengkan kepala juga tidak tahu.

Makin terhanyut bingung dan keduanya bertanya dalam hatinya yang juga terjawab diam. Terus mau bertanya pada wanita tua pemilik warung takut marah. Guratan wajahnya semakin terenyuh sedih, pasti ada sesuatu yang sedang membuatnya sedih.

"Mbok Sum?" tanyanya ketakutan sembari beranjak bangun dan duduk di sampingnya. Firman menoleh kewajah wanita tua hanya terdiam lagi.

"Mbok Sum kenapa? Kok diam aja dari tadi, biasanya ngasih ceramah kalau kita berdua lagi makan?" semakin bingung dan semakin ingin tahu apa yang tengah terjadi, Tarno beranjak bangun sembari bertanya.

"Kalian besok sudah tidak bisa lagi makan di sini, warung ini besok tutup," jawabnya lirih terucap dari bibir coklat pekat wanita tua pemilik warung.

Lagi-lagi kedua lelaki itu makin di buat bingung dan saling menoleh, tentu saja keduanya makin bingung di mana lagi bila perutnya keroncongan dan asam lambungnya naik karena tidak bisa makan lagi. Memang banyak warung makan, tapi rasa masakan Mbok Sum seraya sudah melekat rasanya di lidah keduanya.

"Emang Mbok Sum mau pulang kampung, terus warungnya tutup?" __ "Ntar kita berdua makan di mana, kalau warung Mbok Sum tutup?" keduanya semakin bingung bertanya, tetap mulut wanita tua itu hanya terdiam seribu kata. Sontak saja kerutan wajahnya semakin berkerut, keningnya berkerinyit tanda ada sesuatu yang sedang di pikirkannya.

"Warung ini di tutup, karena Mbok Sum udah nggak bisa bayar sewa kontrakannya lagi," jawabnya sedih, kedua matanya semakin terenyuh sedih.

Keduanya kembali menoleh dan semakin bingung serta ikuti-ikutan terenyuh sedih melihat wanita tua yang selama ini bukan hanya bawel selalu ceramah memberikan nasehat pada keduanya, sudah di anggapnya orang tua. "Fir?" sembari menoleh dan memanggil, Tarno sekali menolehkan wajahnya pada lelaki pemilik mobil bak terbuka.

"Walau mbok tidak punya keluarga dan orang tua, tapi mbok masih punya saudara di kampung. Mbok tidak bisa berdiam diri pada saat mereka sedang dalam kesulitan. Sudah berapa bulan ini, modal dan uang untuk bayar sewa kontarakan. Mbok kirim kekampung. Ponakan mbok sedang sakit," tuturnya sedih sembari mengambil tissue menyeka air mata. Mbok Sum berusaha tidak bersedih, ia tersenyum menoleh kedua lelaki yang selama ini menjadi pelanggan setia warung makannya.

Malahan keduanya jadi bersedih dan ikut larut dalam kebingungan. "Emang berapa duit sewa kontrak ini sebulannya?" tanya Firman nadanya ikut prihatin dan sepertinya mau membantu. Sontak saja bingung Tarno sejenak menoleh perhatikan Firman merogoh tas pinggangnya.

"Tidak mahal, cuman dua juta sebulan," sahutnya jujur terucap dari mulutnya, bukan berati wanita tua pemilik warung ingin di kasihani oleh kedua pelanggannya itu. Mungkin saja ia juga bingung mau mencari kemana uang untuk bayar sewa dan modal warunganya.

Lihat selengkapnya