SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #19

SEMUA DEMI ARDIAN

"Kalau aku malu, punya kakak jadi maling," __ "Apalagi aku, aku bakalan malu bangat kalau kakaknya yang maling itu, sekarang masuk penjara," kedua murid meledek seraya menuding Ardian mau melawan tidak bisa, ia berdiri depan kelas seperti sedang di strap.

"Keluar! Keluar saja dari sekolah ini ...! Uhhhh ..." kini tidak hanya dua murid, tapi semua murid meledek semakin membuat anak bungsu yang kakaknya sudah di penjara. Hancur hatinya, seraya ia di adili dan di hakimi oleh teman sekelasnya karena perbuatan kakaknya.

"Sudah, sudah! Kalian jangan jahat sama Ardian!" lerai teman baiknya, Lala berdiri di depan Ardian seraya meminta semua murid-murid jangan mengadili Ardian.

"Heii, apa-apan kalian? Kembali ketempat duduk kalian. Cepat kembali ketempat duduk masing-masing. Atau kalian mau ibu jemur di halaman sekolah?!" semua bubar dan cepat terduduk di kursi masing-masing. Semua murid ketakutan saat bu guru berkaca mata datang.

"Ardian duduk." pinta Bu Ria, di tariknya lengan Ardian oleh Lala.

"Ibu tahu dan dengar dari kelas sebelah, apa yang kalian lakukan pada teman kalian. Kalian tidak boleh mengadili dan menghukum Ardian. Ardian tidak bersalah, yang bersalah kakaknya. Harusnya kalian memberi support pada Ardian. Ibu yakin, Ardian juga nggak mau kejadian itu menimpa kakaknya. Awas kalian semuanya, jika ibu mendengar lagi kalian mengatai-ngatai Ardian tidak-tidak! Ibu tidak segan-segan akan menghukum kalian semuanya!" semakin marah dan kecewa Bu Ria pada semua muridnya hanya terduduk diam tidak bergeming.

"Ardian, ibu turut prihatin dengan apa yang sudah terjadi dengan kakakmu," ujar guru cantik berkaca sudah berdiri di hadapan Aridan hanya mengangguk sedih, raut wajahnya memerah malu dan dua matanya berkaca-kaca menahan kesedihan.

Sedangkan Lala ikut terharu dan bersedih dengan apa yang menimpa teman baiknya, yang tidak seharusnya teman sekelasnya menghakimi dan mengadili seperti itu karena perbuatan kakaknya.

***

Belum kering air mata masih menyisahkan kesedihan dan belum habis rasa amarah masih mengulik perasaan yang ingin sekali amarahnya di luapkan pada kakaknya yang kini terkurung jeruji besi penjara. Adik bungsunya seraya terpukul tidak menyangka dua matanya melihat sendiri, jika kakak kembali melukai hatinya.

Kejadian tadi siang di sekolah belum habis kesedihannya dan malahan kini, sejak tadi Ardian hanya terbaring tidur, ia sedang demam. Gara-gara memikirkan kakaknya, yang kini sudah di penjara. Batinnya seraya tidak kuat dan tergoncang, hingga panas menghinggapi tubuhnya. Demam tinggi, panik bingung dan cemas ibunya saat mengompres kening anak bungsunya.

Sedangkan suaminya sejak kecelakaan tabak lari, ia hanya bisa terbaring dan hanya terduduk saja. Jalanpun tidak bisa jauh-jauh, pasti sakit pinggangnya makin di rasakan sakit. "Yah, kita bawa Aridan kerumah sakit," ujar istrinya pada suaminya hanya terduduk diam perhatikan anak bungsunya terbaring tidak jauh darinya.

"Bu ini," langsung di sodorkan mangkok plastik berisi es batu. Tarno lalu mengambil teko air yang di tunggingkan airnya keluar menyatu melelehkan es batu. Tarno lalu menoleh dan menghampiri lelaki tua yang ingin di bantunya jalan.

"Tar, Caca mana?" __ "Caca masih di kedai pak," tanya lelaki tua, sejak tadi ia samgat cemas dengan keadaan anak bungsunya. Tidak hanya suaminya, tapi istrinya semakin terumbar kecemasan sampai mengalir pada raut wajahnya.

Lihat selengkapnya