SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #20

BERHARAP HANYA PADANYA

Hanya padaNya, hanya Ia yang harus di puja dan tak ada selain dariNya. Sungguh pahit kisah cintanya, namun seraya ia tidak berdaya, tidak bisa mengelak dengan segala tuntutan dan keinginan seorang ibu, padanya. Percuma saja ia melawan dan merontah pada seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Hati sanubarinya yang terdalam tidak bisa di pungkiri jika ia masih tidak bisa memutuskan dan meninggalkan cintanya terjatuh dalam liang kesedihan selamanya terkubur tanpa kepastian. Walau berusaha untuk menjelaskan, namun tetap saja ia tidak berdaya untuk kembali meyakinkan ibunya, bila gadis pilihannya itu adalah pilihan terbaiknya.

Dua matanya berkaca-kaca, sejak tadi tidak ingin meneteskan air mata walau hatinya sudah bermain dengan kesedihan yang harus mengikuti kata hati ibunya. Dua tangannya masih menengadah, hatinya mengajak berbisik seraya memohon petunjuk padaNya. Petunjuk mendapatkan calon terbaik untuk pendamping hidupnya yang semakin tidak mudah untuk di dapati, karena satu tekanan.

"Ya Allah, aku tidak ingin menjadi anak berdosa pada ibuku. Aku hanya ingin berbakti pada ibuku," terdengarnya samar untaian suara sedang memohon padaNya.

"Assalamu’alaikum Warahmatullah," selesai sholat ia sejenak tertegun menatap kaligrafi Lafadz Allah terpampang pada dinding tembok sejurus dengan sajadah sebagai alas sholatnya.

Lalu Joni beranjak bangun, ia tidak menyadari sejak tadi ibunya memperhatikannya. "Itulah baru anak ibu, memang harus begitu. Kamu harus berbakti sama ibu. Karena doa ibu selalu menyertaimu," terenyuh sendu seorang ibu ketika tadi mendengar untaian doa yang di panjatkan anaknya, untuknya.

Sajadah lalu di letakan di ranjang, terasa lemas tidak berdaya dua kakinya mengajak berjalan karena hatinya semakin tidak ingin melukai hati perasaan ibunya.

"Bu," __ "Sudah Jon. Ibu tahu apa yang terbaik untuk kamu," mungkin saja hatinya masih di bisiki ketidak yakinkan, namun ibunya tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Wanita setengah baya, wajahnya sungguh sangat cantik dengan mukena putih, ibunya juga habis selesai sholat. Lalu ia beranjak jalan keluar pergi meninggalkan anaknya sudah terduduk di ranjanh. Dalam kesendiriannya ia kembali menoleh menatap pada kaligfari Lafazd Allah.

Rasa berbaktinya yang tadi sudah di ungkapan pada penguasa semesta ini, tidak mungkin ia berkilah walau sesungguhnya hatinya kian di bisiki ketiak yakinkan dengan calon pendamping pilihan ibunya.

Lihat selengkapnya