SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #21

DIA TIDAK PANTAS UNTUKMU

Ikatan cintanya sulit untuk di lepaskan, terlalu kuat dan sudah melekat menyatu dalam kesetiaan abadinya. Walau ia berusaha memohon petunjuk pada sang penguasa pemilik segalanya, tetap hatinya telah rapuh seraya tidak peduli dengan kesedihan yang sedang di ratapi ibunya. Cowok tampan, anak semata wayang pewaris banyak kekayaan sungguh berat rasanya ia berkomitmen pada ibunya.

"Biar, biar aku jadi anak durhaka! Asal cintaku tetap bersama Caca!" bantahnya seraya ia berani mengakui menjadi anak durhaka pada ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Sedangkan gadis cantik, yang telah di jodohkannya hanya terdiam seraya dua kakinya tidak berdaya terikat untuk menghapus kesedihan pada calon suaminya.

"Dan kamu, Mel. Seharusnya kamu jangan menuruti apa kata ibuku. Aku bukan lelaki bayaran, yang mudah untuk menerima cintamu dengan kekayaanmu! Justru Caca, tidak seperti yang ibu bayangkan. Caca bukan gadis matre! Caca tidak pernah sama sekali memanfaatkanku! Bu, aku mohon. Restu cintaku dengan Caca. Aku tidak mencintai Amel," di ambilnya kunci mobil setelah Joni puas meluapkan amarahnya pada ibu dan gadis perjodohannya.

"Jon, Joni! Tunggu, kamu mau kemana?!" di kejarnya sembari memanggil anaknya. Maya seraya memohon pada anaknya sudah duduk di belakang kemudi setir mobilnya.

Pandangannya semakin gusar pada gadis pilihan ibunnya di lihatnya dari dalam monil. Walau ia sudah memohon pada sang penguasa pemilik cinta dan segalanya. Tetap saja hatinya seraya ingin berontak karena terjangan dashayatnya terpaan riak gelombang cinta semakin membuatnya tidak berdaya.

"Aku ingin menjemput cintaku," tandasnya jelas pada ibunya. Joni mulai kemudikan setir mobil berjalan mundur dan berbelok kanan lalu berjalan pergi.

Tatapan sedih, dua matanya tidak dapat di pertahankan dengan gerusan air mata. Amel menangis menoleh pada calon mertuanya menahan gusar, jelas terlihat dari guratan wajahnya yang sungguh sangat kecewa pada anak satu-satunya semakin berani membangkang.

***

Siang masih terlalu panjang untuk berganti dengan malam. Gulungan awan putih sedang bermain dengan hembusan angin tidak berwujud seraya mengajak menari-nari dengan kilauan sengatnya terik matahari.

Rerimbunan daun pepohonan menghalangi sengatan terik matahari yang begitu nakal mengintip wajah-wajah penikmat kopi. Suasana siang itu di kedai kopi santai tidak terlalu ramai, biasanya menjelang senja baru mulai berdatangan penikmat kopi memadati setiap kursi.

Gadis barista yang selama ini jadi andalan owner kedai kopi, ia terlihat sibuk sampai-sampai ia membantu rekan kerjanya untuk mengantarkan sendiri pesanan kopi pada pengunjung.

Sedangkan kali ini yang jadi barista, ownernya sendiri yang meracik kopi sejak tadi pandangannya selalu memperhatikan gadis berhijab hitam lengkap dengan seragam hitamnya, yang sebentar lagi akan membuka hati untuknya.

"Mas, ini pesanan kopinya. Rasa cafucino?" __ "Iya, terima kasih mbak," di letakannya kopi rasa cafucino di hadapan lelaki muda membalasnya dengan senyuman. Caca lalu beranjak jalan, tiba-tiba berhenti saat seseorang memanggil dari belakang.

"Ca!" dua kakinya ragu ingin berbalik, ia kenal dengan suara yang memanggilnya sudah berdiri di belakang.

Joni sesaat berdiri di belakang gadis yang sebenarnya sudah memutuskan kata cintanya, namun hatinya masih belum yakin untuk meninggalkan dan memutuskan hubungannya.

Lihat selengkapnya