Rasa sakit lelaki tua itu semakin tidak ingin beranjak pergi, semakin menguliti rasa keyakinan kesembuhannya. Di tambah dengan pukulan dan tendangan dua lelaki kekar tadi siang. Rasanya tubuhnya semakin tidak berdaya, walau guratan wajahnya selalu di paksa untuk selalu tersenyum hanya untuk menyakinkan anak dan istrinya, jika ia tidak apa-apa.
"Ca, ini obatnya," __ "Taruh di situ Tar," Tarno memberikan kantong berisi obat di jawab Caca sembari menyuapi makan ayahnya.
"Bu, kenapa si orang-orang pada jahat sama keluarga kita? Padahal ayah'kan cuman membela Kak Caca. Belum lama ayah di gebukin sama dua satpam komplek perumahan, terus belum lama ayah ketabrak mobil. Yang nabrak ayah malahan kabur. Hehh, sekarang ayah di gebukin lagi sama ibu bekas pacarnya Kak Caca," tutur sedih seraya geram menahan marahnya anak bungsu itu duduk di samping ibunya sedang menguruti dua kaki suaminya.
"Ayah tidak apa-apa, Ar. Kita harus menjalani kesabaran dan ikhlas, mungkin saja ayah sedang diuji. Karena Allah tidak akan memberikan ujian di luar dari kemampuan ayah. Ayah yakin, bila semua ini akan ada hikmah dan kebahagiaan buat kita semua, dengan yang terjadi saat ini," tuturnya tersenyum walau merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Lukman menatap anak gadisnya berusaha menahan tangisan.
"Ayah sudah kenyang, Ca." ujar ayahnya, lalu beranjak bangun anak gadisnya meletakan piring masih tersisa makanan di meja.
"Ca, tadi gua besuk Firman," __ "Ngapain loe?! Loe ngabarin, kalau ayah habis di pukulin orang?! Bego loe! Kan' udah gua bilang sama loe, jangan kasih tahu Firman!" padahal suaranya Tarno pelan, tapi tidak dengan Caca yang emosian sempat di lirik ayahnya menoleh melihat kasak-kusuk anak gadisnya sedang di bisiki sesuatu oleh Tarno.
"Ca, sini." panggil ayahnya, nada suaranya pelan.
"Udah loe sana, bantuin Rahman!" __ "Iya," sambil mengusir Tarno sempat mengangguk dan berjalan keluar. Caca menghampiri dan duduk di samping ayahnya.
"Ca, ayah semakin tidak kuat menahan rasa sakit. Ayah mau kamu dan Firman akur. Ayah tidak mau kamu selalu bertengkar dan menyalahkan kakakmu," sontak sedih, seperti ada pesan terakhir yang harus di dengar anak gadisnya.
Tidak hanya Caca, tapi anak bungsunya juga bersedih di sertai istrinya merasakan sesuatu yang tidak enak dengan keadaan suaminya. Apa itu petanda dan ungakapan terakhir suaminya, itu yang kini menggelayuti pikiran istrinya.
"Ayah sembuh kok, ini aku baru beliin obat buat ayah. Ini obat untuk tulang. Ini obat untuk memar dan ini obat untuk lebam di wajah ayah," di jawabnya sembari menunjukan butiran obat pada ayahnya. Walau guratan raut wajahnya tidak bisa di bohongin, ayahnya jelas melihat kekhwatiran pada anak gadisnya.
"Ayah harus sembuh. Tuh obatnya sudah di beliin sama Kak Caca," di timpali adik bungsunya beranjak bangun lalu mengambil gelas kosong dan isinya dengan air putih.
"Ayah tidak mau minum obat sebelum kamu janji sama ayah. Ayah mau minum obat itu, jika kamu tidak marah lagi sama Firman," Caca bingung dan dilemma yang terucap dari mulut ayahnya.