Saat ayahnya masih hidup, ia selalu membawa alquran kecil di sakunya. Ia selalu melantunkan pujian ayat-ayat alquran seraya memuji penguasa semesta agar berbelas kasihan pada anak-anaknya.
Namun kini tidak lagi terdengar lantunan untain ayat-ayat alquran terdengar, tidak lagi ada doa-doa teruntai. Karena sisa doa dalam sakunya telah di bawa pergi selama-lamanya.
Dari kejauhan terdengar khidmat dan merdu suara lantunan ayat-ayat alquran memecah keheningan malam. Seraya langit terketuk hatinya dengan sinar indung rembulan malam menyinari wajah gadis yang sejak tadi melantunkan ayat-ayat alquran.
"Shadaqallahul 'adzim," di ciumnya dengan rasa haru alquran kecil lalu di letakannya di atas bantal.
Caca beranjak bangun dan menoleh kakaknya masih terjaga dari tidur dan sejak tadi ia hanya terduduk. Pandangannya kosong menatap keluar pintu, di mana di luar hanya ada kegelapan tersamar cahaya lampu kecil menggantung depan bangunan sederhana.
Caca tersenyum, walau kesedihannya masih belum ingin beranjak pergi dari dua matanya. Ia lalu membungkuk dan mengambil alquran dan di pegangnya. Caca sudah berdiri di hadapan kakaknya perlahan mendongak menatap wajah adiknya masih mengenakan mukena putih.
Lalu adiknya terduduk, dua kakinya melipat tertutup mukena sembari meletakan alquran di lantai pelan di geser kearah kakaknya. Pandangan Caca lalu menoleh melihat terenyuh sedih ibu dan adik bungsunya, keduanya tertidur pulas.
"Sebelum ayah pergi, ayah titip alquran ini. Alquran itu selalu ayah bawa di saku bajunya. Gua pengen loe tetap doain ayah," tutur adik gadisnya tersenyum kembali menatap dua mata kakaknya berkaca-kaca mengambil alquran kecil.
"Maafin gua, Ca. Gua tahu selama ini loe marah kecewa sama gua. Padahal apa yang gua lakukan, cuman buat nyenengin ayah sama ibu. Tapi cara gua salah," dua matanya makin berkaca-kaca, tapi tidak meneteskan air mata. Firman menghela napas seraya ia bersalah dan sangat menyesali perbuatannya.
"Semua sudah terjadi Fir. Ayah pergi dan nggak mungkin akan kembali lagi. Sekarang hanya kenangan manis yang cuman kita dapat rasain saat ayah masih ada. Gua tahu ayah sayang bangat sama loe. Orang tua mana juga pasti belain anaknya. Tapi loe di bantuin dan di kasih kepercayaan, malahan bikin ayah sedih aja," dua mata adiknya kali ini tidak bisa menahan kesedihan tapi berusaha untuk tersenyum kecil. Caca tersenyum seraya meledek kakaknya.
"Iya Ca. Gua janji, gua nggak bakalan lagi bikin loe, ibu sama Ardian sedih. Gua akan kerja keras," __ "Yang halal," baru saja melanjutkan sudah di potong adiknya lagi-lagi meledek.
"Iya yang halal," jawab kakaknya berusaha untuk tidak bersedih, walau sedikit tersenyum hatinya kecil masih di bayang-bayangi rasa bersalah saat menoleh melihat ibu dan adiknya tertidur lelap beralas kasur busa tipis.