SISA DOA DI SAKU AYAH

Herman Siem
Chapter #24

BAHAGIA TANPA AYAH

"Benaran mbok, duit ini halal," di paksanya dua tangan wanita tua pemilik warung menerima berapa lembaran uang kertas pecahan seratus ribu dari dua tangan lelaki yang di bantunya keluar dari penjara. Mbok Sum melirik Tarno mengangguk dan kembali makan.

"Udah ambil mbok. Kalau Mbok Sum nggak mau, saya juga mau duit itu," Tarno menimpali, makannya lahap lalu meneguk segelas air teh tawar.

Terenyuh seraya terharu sejenak menatap lembaran uang kertas dalam genggaman tangannya. Beranjak bangun wanita tua yang selama ini begitu perhatian padanya. Sepasang mata dalam lingkaran sudah mengerut beratap alis memutih seraya tak ingin berkedip walau mengajaknya berkaca-kaca menahan tangisan.

Beranjak bangun Firman lalu memeluk wanita tua dalam kehangatan dan kesedihan. "Mbok Sum, saya baru menyadari betapa sangat kehilangannya, saat ayah pergi untuk selama-lamanya. Saya sangat berdosa, mbok pada ayah," luapan emosinya di biarkan semakin mengantarkan tangisan semakin basah wajahnya dengan deraian air mata masih memeluk wanita tua.

Firman tidak lagi memeluk, kedua matanya masih menyisakan deraian air mata lalu di sekanya oleh jemari kanan wanita tua pemilik warung makan.

"Manusia tak ada yang sempurna, ia sering khilaf melakukan dosa. Tuhan Maha Pengampun, Firman. Mohon padaNya. Memang terasa sesak penuh penyelasan ketika orang yang sering kita sakiti. Kini orang itu telah pergi selama-lamanya," tutur wanita tua berusaha tidak ikut menangis, jemari kanannya tidak lagi menyeka air mata lelaki yang selama ini sudah di anggap anaknya.

"Makanya Fir, loe mulai sekarang jangan lagi bikin kecewa, apalagi bikin marah adik-adik sama ibu loe," di timpali Tarno tersenyum kecil beranjak bangun bawa piring dan gelas lalu di cucinya pada wastafel cucian piring.

Langit sebentar lagi berganti malam, namun senja masih bertugas walau masih terjaga dalam tugasnya sinar indung terik matahari masih terlihat. Suasana pasar mulai terlihat sepi serasa hanya ada kesunyian di setiap lorong koridor. Toko-toko satu-persatu di sertai lapak sudah mulai tutup di tinggalkan pemiliknya.

Tidak lagi menangis, seraya penyesalannya perlahan terkubur dengan keyakinannya, bila penguasa semesta akan selalu memberikan ampunan pada mahluk ciptaannya. Raut wajahnya semakin tergurat bahagia, karena Firman yakin jika ayahnya saat ini sudah bahagia bersama penguasa semesta. Tetap saja kebahagiaan itu sesaat akan pergi menyingkir, di kalah ia teringat ayahnya.

Terdengar suara canda tawa dua lelaki masih duduk di kursi panjang depan warung, Firman dan Tarno sedang memanggul keranjang sayuran. Senyumannya tidak akan pernah beranjak pergi dari raut wajah menua wanita tua pemilik warung, selama ini ia begitu sangat perhatian dan sayang melihat sopir dan kenek memanggul keranjang sayur di angkut kemobil bak terbuka.

***

Hatinya sudah mantap dan bulat, walau ada keraguan dalam hatinya selalu terbisiki jika gadis yang akan di lamarnya akankah menolaknya. Sejak tadi owner kedai kopi santai hanya berdiri depan cermin, ia sendirian dalam toilet. Kedai kopi miliknya tampak hening berselimut kesunyian. Sejak tadi memang sudah tidak ada pengunjung, pelataran halaman kedai kopi hanya terlihat kursi dan meja berlangit gelap malam dengan cahaya samar lampu di setiap sudut.

Wajahnya memang tampan, style pakaiannya sangat sederhana hanya tersenyum malu seraya melafalkan kata-kata dengan kotak kecil dalam genggaman tangan tangannya. "Ca?" kikuk, bibirnya seraya tidak lagi bisa berkata-kata. Rahman menarik napas pelan sejenak di tahannya, makin terlihat tampan wajahnya di cermin.

"Caca, a-a." terbata-bata, mulutnya seraya tidak mampu untuk menguntai kata-kata.

Lama kali ini wajahnya menatap cermin, degupan jantungnya seraya menabuh cepat. Benaknya semakin tidak yakin, apa gadis yang ingin di lamarannya akan menerimanya.

Lihat selengkapnya